JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Kondisi dan Sejarah Kota Solo Dikaji

Kondisi dan Sejarah Kota Solo Dikaji

46
BAGIKAN
1512-balaikota-1
Ilustrasi

SOLO – Kondisi Kota Solo dari waktu ke waktu dibahas dalam diskusi yang menghadirkan Dr Ir Qomarun dari Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai narasumber utama.

Dalam paparan yang digelar di Balai Soedjatmoko pekan lalu itu dijelaskan kondisi Kota Solo dalam lima tahap kehidupan, yakni era benih, embrio, lahir, tumbuh, serta dewasa. Era benih-embrio diidentifikasikan sebagai era belum berwujud kota, melainkan kegiatan dan bangunan sporadis. Era ini berlangsung antara 1427-1527, di mana saat itu muncul kegiatan perdagangan dan pelayaran di sepanjang Kali Bengawan.

Sedangkan era lahir diidentifikasikan sebagai era kemunculan awal fisik kota. “Embrio Kota Sala terjadi pada saat Kadipaten Pajang-Demak hadir di daerah Sala sejak tahun 1527 dan sekaligus menggantikan kekuasaan Kadipaten Pengging-Majapahit atas wilayah pedalaman Jawa,” ujar Qomarun dalam keterangan tertulisnya yang diterima Joglosemar, Rabu (25/1/2017).

Sementara era tumbuh-dewasa diidentifikasikan sebagai era pertumbuhan dan pengembangan fisik kota, baik dari elemen ‘darah’ (manusia), ‘daging’ (bangunan) dan ‘tubuh’ (lahan). ”Jadi, pada bagian ini dikemukakan sejarah dan pengembangan Kota Sala 1427-2011 melalui pendekatan morfologi, yaitu ilmu yang mengupas tentang proses perubahan bentuk kehidupan dari satu tahap ke tahap berikutnya. Jadi, sesuai dengan sifat kota yang mirip dengan organisme, maka perubahan Kota Sala juga diperlihatkan dengan pedekatan morfologi,” terang dia.

#Sika Nurindah