JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Fashion LIPUTAN KHUSUS : Suka Duka Desainer Fashion Show di Luar Negeri

LIPUTAN KHUSUS : Suka Duka Desainer Fashion Show di Luar Negeri

64
BAGIKAN
Joglosemar/Mohammad Ayudha IKAPERSATA- Owen Joe
Joglosemar/Dok
IKAPERSATA- Owen Joe

Bagi seorang desainer, menggelar fashion show atau pameran di luar negeri tentu saja menjadi hal yang membanggakan.  Namun, sebenarnya bukan pekerjaan mudah saat akan menggelar sebuah show di luar negeri ini.

Untuk menggelar pameran maupun fashion show di luar negeri tentu saja tidak semudah seperti menggelar show di dalam negri. Seperti yang pernah dilakoni oleh desainer Satrio Joeli Wiyoto atau lebih dikenal  dengan sebutan Owen Joe ini.

Dia sudah beberapa kali menggelar fashion show di beberapa negara. Banyak suka duka yang dia rasakan di negeri orang. Mulai dari keberangkatan di Bandara yang selalu bermasalah dengan bagasi.

Pasalnya, ketika akan melakukan show atau pameran di luar negeri tentu saja koleksi rancangan yang dia bawa jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi asesoris yang akan menunjang show-nya nanti dan lain sebagainya. Dia membawa seterika sendiri.

“Seperti kalung-kalung etnik yang saya bawapun diteliti karena jumlahnya banyak. Dikirain mau buat apa,” kata pria yang mempopulerkan kembali batik Bekonang ini.

Setidaknya dia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar bagasi. Bahkan, terkadang dia terpaksa harus meninggalkan beberapa koleksinya lantaran sudah overload dan tidak bisa dibawa.

Joglosemar/Mohammad Ayudha IKAPERSATA- Owen Joe
Joglosemar/Dok
IKAPERSATA- Owen Joe

“Ribet sekali kalau mau show di luar itu, mulai dari di Bandara aja, beberapa kali pemeriksaan harus berurusan dengan petugas karena ada bahan logam terdeteksi, terkadang juga dikira menyelundupkan barang macam-macam pokoknya,” ujar Ketua Ikatan Perancang Busana Surakarta (Ikapersata) ini kepada Joglosemar, Sabtu (7/1/2017).

Keribetan tidak hanya berhenti di Bandara. Saat fashion show semua baju yang dibawa dari Indonesia tanpa fitting dengan model, karena model biasanya disediakan oleh Event Organizer (EO) di negara tujuan, sehingga standar ukuran model berbeda. Kalau mau membawa model dari Indonesia tentu saja biaya akan lebih mahal lagi.

Selain itu, terkadang pada saat pelaksanaan juga terkendala dengan bahasa. Tidak semua negara tujuan panitia dan EO paham bahasa Inggris atau Indonesia, sehingga sering terjadi misscommunication.