JOGLOSEMAR.CO Opini Refleksi Masih Banyak Program Anjing Kencing, Ini Maksudnya!

Masih Banyak Program Anjing Kencing, Ini Maksudnya!

43
BAGIKAN
1201-anjing-kencing-1
Ilustrasi

                 Ada istilah yang cukup menggelitik dari Rektor UNS, Prof Ravik Karsidi. Istilah itu adalah “Anjing Kencing”. Prof Ravik menyebut istilah itu saat melepas mahasiswa KKN di halaman Rektorat UNS Selasa (10/1/2017) kemarin.  Pesan itu ditujukan kepada para mahasiswa agar program-program KKN tidak berhenti saat mereka selesai dan pergi dari lokasi. Para mahasiswa dan dosen diminta tidak meninggalkan program yang belum selesai begitu saja hanya karena waktu habis.

                 Praktik meninggalkan sisa pekerjaan seperti itulah yang disebut Prof Ravik sebagai Anjing Kencing. Maka program KKN perlu dirancang secara integratif agar dapat berkesinambungan.

                 Istilah anjing kencing tersebut mengingatkan program-program pemerintah yang sering kali tidak berkesinambungan. Lihat saja, masing-masing menteri seolah asyik dengan programnya sendiri.  Salah satu yang mencolok adalah bidang pendidikan.

                 Misalnya, bagaimana nasib Kurikulum 2013  (K-13) itu sekarang?  Jika kita tengok ke belakang, sejak awal menjabat, Anies sudah berbeda pandangan dengan M Nuh dalam hal kurikulum pendidikan. M Nuh menargetkan penerapan K-13, sementara Anies  lebih cenderung menyesuaikan dengan kesiapan sekolah.

                 Maka tak heran sejak Anies resmi menjabat sebagai Mendikbud, dirinya menunda penerapan K-13 secara serentak. Sebagai alternatifnya, program K-13 dilakukan pada sekolah-sekolah percontohan yang ditunjuk oleh pemerintah.

                 Saat jabatan Mendikbud beralih ke Prof Muhajir Effendi, program K-13 yang masih menggantung itu seolah tanpa kabar beritanya dan tidak tersentuh. Mendikbud yang baru justru sibuk menciptakan kebijakan baru yang sama sekali tidak berkesinambungan dengan program sebelumnya.

                 Lalu muncullah program Full Day School (FDS). Sebuah program yang juga sempat memunculkan kontroversi terkait kesiapan sekolah dan kondisi masing-masing wilayah.

                 Dibandingkan dengan sektor-sektor lain, pendidikan merupakan sektor yang sangat strategis dan berjangka panjang. Keberhasilan pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu lima atau sepuluh tahun. Hasil dari pendidikan tidak diukur dari periodisasi jabatan menteri.

                 Dikatakan strategis, karena pendidikan bertanggung jawab menyediakan calon-calon pemimpin bangsa yang cerdas dan berbudi pekerti. Kalau ternyata di negeri ini banyak pejabat terseret pusaran korupsi, itu sinyal bahwa kualitas pendidikan mental di tanah air gagal.   Yang terjadi kemudian, orang ramai-ramai menuding pendidikan kita keliru karena tidak menyertakan materi budi pekerti. Lalu disisipkanlah pendidikan budi pekerti di beberapa mata pelajaran, sebagai sebuah sisipan dan bukan pelajaran pokok.

                 Kapan hasil sisipan budi pekerti tersebut bisa dilihat, tentu tidak dalam waktu dekat. Pendidikan memang investasi jangka panjang, berbeda dengan sektor ekonomi dan sektor-sektor fisik lainnya, yang angka keberhasilannya dapat dilihat dengan nyata dalam waktu dekat.

                 Baik buruknya pendidikan baru dapat dilihat setelah para siswa kelak menjadi pemimpin. Dari paparan ini terlihat jelas bahwa program pendidikan kita belum integratif dan berkesinambungan. Yang dilakukan selama ini masih terkesan coba-coba.

                 Ketika Mendikbud nanti berganti orang, ada dua kemungkinan, program Full Day School bakal diteruskan atau dilupakan. Apalagi program K-13 yang sudah berselang. Besar kemungkinan, menteri yang baru kelak, akan berkreasi menciptakan program-program baru yang dapat mencatatkan namanya di papan skor. Jarang ada menteri yang rela menjadi penerus kebijakan sebelumnya, sekalipun kebijakan tersebut baik dan berkualitas.

                 Bukankah fakta ini mirip-mirip istilah Anjing Kencing? ***