JOGLOSEMAR.CO Opini Refleksi Menata PKL di Teminal Krisak Wonogiri

Menata PKL di Teminal Krisak Wonogiri

51
BAGIKAN
0411-pkl-1
Ilustrasi

Terminal Tipe A Giri Adipura Krisak, Wonogiri kondisinya semrawut. Hal itulah yang selama ini dikeluhkan oleh para penumpang. Kesemrawutan itu disebabkan oleh penataan barang-barang dagangan milik para pedagang yang tidak pada tempatnya, sehingga membuat ruang tunggu penumpang menyempit.

Keluhan para penumpang tersebut terutama terjadi pada area keberangkatan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Dari sisi timur hingga barat di area pemberangkatan itu habis digunakan oleh para PKL untuk menaruh aneka macam dagangan. Meja dan kursi pedagang memenuhi hampir separuh area tersebut.

Akhirnya penumpang yang turun dan naik bus juga kerepotan, lantaran banyaknya calon penumpang yang berdiri berjajar di area yang sempit itu.

Kepala Dinas Perhubungan Wonogiri, Ismiyanto sendiri  mengaku sudah mengetahui kondisi tersebut. Dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan penataan secara bertahap. Namun sebelumnya akan dilakukan sosialisasi kepada para pedagang.

Penataan PKL bukan perkara baru dalam penataan sebuah kota.  Kondisinya di mana pun hampir sama, yakni adanya “pelanggaran”  areal yang telah ditentukan. Dan uniknya, pelanggaran ketentuan itu biasanya terjadi secara massal. Padahal dalam konsep awal penataan kota, biasanya sudah dipetakan  lokasi mana yang boleh digunakan berdagang dan mana yang tidak.

Penataan pedagang secara massal biasanya akan menimbulkan masalah-masalah sosial. Minimal, butuh energi dan waktu tidak sedikit. Bagi pemerintah yang bersikap represif, bisanya ambil jalan mudah yakni  penggusuran. Pemerintah toh memiliki dasar hukum untuk melakukan itu. Hanya saja, cara represif seperti itu selain menimbulkan citra negatif bagi pemerintah, juga dapat mengakibatkan sikap apatis di kalangan masyarakat.