JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Om…Cabai …Om, Tapi Harganya Pedas Sepedas Rasanya!

Om…Cabai …Om, Tapi Harganya Pedas Sepedas Rasanya!

38
BAGIKAN
1801 - lombok
Dok
0912-edy-ps-batik-1
Dr Edy Purwo Saputro SE MSi
Dosen di FEB Universitas Muhammadiyah Solo

Harga cabai di Solo relatif masih tinggi dan pasar murah yang dilakukan dengan harga jual cabai Rp 75.000 ternyata belum bisa menurunkan harga cabai di Solo. Harga cabai yang terus meroket menjadi signal negatif terhadap ancaman inflasi dari sektor pangan di awal tahun 2017.

Paling tidak, sejumlah komponen pangan telah rutin berfluktuasi dan nampaknya pemerintah tidak mampu mengantisipasi dari setiap kasus yang terjadi. Ironisnya, ini cenderung terus berulang dan akhirnya menjadi pertanyaan ada apa di balik kasus harga cabai? Mencari kambing hitam dengan dalih anomali cuaca adalah alasan klise yang terjadi setiap tahun.

Berlarutnya harga cabai menjadi alasan yang kuat bagi pemerintah untuk mengeluarkan cabai dari harga acuan yang kini sedang dievaluasi, terutama terkait dengan ancaman laju inflasi. Sebagai konfirmasi Peraturan Menteri Perdagangan  No. 63/2016 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Konsumen menegaskan ada 7 komoditas dan salah satunya adalah cabai dengan kisaran harga untuk cabai merah dan keriting yaitu Rp 28.500 dan untuk cabai rawit merah Rp 29.000. Ironisnya, di Solo harga cabai masih saja tinggi meski sudah lebih dari tiga pekan.

Konsekuensi

Fluktuasi harga cabai memang bukan satu-satunya yang terjadi karena lonjakan harga kedelai juga terus terjadi dan industri berbasis kedelai yaitu tahu — tempe merupakan pihak yang paling dirugikan, sementara konsumen adalah mata rantai yang tidak mampu mengelak dari belit harga kedelai itu sendiri. Padahal, konsumsi tahu – tempe merupakan kebutuhan menu pokok keseharian sehingga fluktuasi harga kedelai berpengaruh kepada daya beli masyarakat. Ironisnya, pemerintah tidak berkutik dengan fluktuasi harga ini dan pelaku industri berbasis kedelai juga rentan dengan ancaman bangkrut karena tidak mampu bersaing dengan fluktuasi harga kedelai. Kasus ini juga terjadi di Solo.