JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Pengelolaan Sampah di Sukoharjo Masih Jadi Masalah

Pengelolaan Sampah di Sukoharjo Masih Jadi Masalah

132
BAGIKAN
Joglosemar | Dynda Wahyu Wardhani PILAH SAMPAH--Rahmadi Sutanto (40) sedang memilah sampah yang tertimbun di pinggiran Sungai Bendungan, Desa Joho, Kecamatan Mojolaban, belum lama ini.
Joglosemar | Dynda Wahyu Wardhani
PILAH SAMPAH–Rahmadi Sutanto (40) sedang memilah sampah yang tertimbun di pinggiran Sungai Bendungan, Desa Joho, Kecamatan Mojolaban, belum lama ini.

SUKOHARJO—Pengelolaan sampah masih selalu jadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Tidak sekadar dibuang, sampah diharapkan juga dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Untuk itu, kesadaran masyarakat dalam membuang sampah juga sangat dibutuhkan.

“Sampah tidak hanya ada di satu desa tapi hampir semua desa. Kurangnya lahan untuk pembuangan sampah dan juga minimnya kesadaran masyarakat menjadi salah satu faktor sampah sulit dikendalikan,” ujar Camat Mojolaban, Iwan Setiyono, Minggu (22/1/2017).

Iwan menjelaskan, awal tahun 2017 ini, dengan peralihan Organisasi Perangkat daerah (OPD) yang baru, pihaknya masih menunggu apakah pengelolaan sampah desa ditangani kabupaten atau masuk dalam ranah UPTD PU Kecamatan. Ia mengharapkan dengan OPD baru ini penanganan sampah juga akan lebih optimal.

“Kalau masuk di ranah kabupaten, akan kami laporkan perihal sampah sesuai dengan kapasitas kewenangan kami. Namun kami juga sudah berusaha untuk menangani sampah semaksimal yang bisa kami lakukan dengan Anggaran Dana Desa (ADD) yang kami terima,” imbuh Iwan.

Dalam penggunaan ADD, Iwan mengaku telah menyulap salah satu desanya, yakni Desa Laban menjadi lebih kreatif dalam pengelolaan sampah.

“Ini mengarah ke BUMD. Jadi di Desa Laban sudah punya kendaraan pengangkut sampah dan pengelolaan sampah yang baik,” lanjutnya.

Menurut Iwan, titik lokasi rawan sampah yakni yang berdekatan dengan pasar dan perumahan. Ia berujar, pihaknya kini sedang fokus untuk mencari jalan keluar di mana sampah akan dibuang. Ia tidak mau bila pembuangan sampah hanya berstatus pindah tempat saja.

“Nanti sudah menumpuk di sini terus diambil dan hanya dipindah ke tempat baru tanpa pengelolaan, ya sama saja tidak efektif. Malah menimbulkan masalah baru di lingkungan baru,” kata dia.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Penataan Ruang (PR) menambahkan untuk wilayah Sukoharjo terdapat 125 ton sampah per harinya.

Sedangkan yang mampu diolah baru sebanyak 25 ton saja. Ia mengatakan pengelolaan sampah tersebut masih untuk gas yang digunakan memasak masyarakat setempat.

“Untuk pembuangan sampah di TPS sudah kami bagi menjadi 3R, yaitu reuse, reduce dan recycle. Diharapkan dengan pembagian seperti itu, dapat benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk memilih kembali sampah sebelum dibuang. Jadi kuota sampah menjadi nol, karena sudah dipilah dan bisa bermanfaat,” tandasnya.

Dynda Wahyu Wardhani