JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Pengemis dan Gelandangan Dilarang Seliweran di CFD

Pengemis dan Gelandangan Dilarang Seliweran di CFD

19
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias RAZIA PGOT- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Solo merazia pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) di car free day, Minggu (8/1). Razia tersebut dilakukan demi kenyamanan pengunjung car free day.
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
RAZIA PGOT- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Solo merazia pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) di car free day, Minggu (8/1). Razia tersebut dilakukan demi kenyamanan pengunjung car free day.

SOLO – Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta berkomitmen mewujudkan gelaran Car Free Day (CFD) bebas dari Pengemis Gelandangan dan Orang Telantar (PGOT).

Komitmen itu dibuktikan, puluhan personel dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surakarta menggelar razia PGOT di areal CFD, Minggu (8/1/2017) pagi.

Menurut Kabid Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kota Surakarta, Agus Siswuryanta, sebanyak 19 PGOT ditemukan di berbagai lokasi saat Satpol PP melakukan penyisiran. “Penyisiran PGOT mulai dari kawasan Purwosari hingga ke Bundaran Gladag,” terang Agus kepada Joglosemar.

Disebutkan, 19 PGOT yang diamankan petugas Satpol PP dan Linmas Kota Surakarta bukan hanya dari Kota Solo. Mereka berasal dari Kabupaten Boyolali, Karanganyar, dan Sukoharjo.

Dijelaskan, setelah tertangkap oleh petugas, PGOT langsung dibawa ke Kantor Satpol PP untuk dilakukan pendataan serta pembinaan. Pembinaan terkait larangan beraktivitas di kawasan yang tertib dan bersih dari PGOT seperti pada gelaran CFD.

“Meski ada yang berasal dari luar Kota Solo, kita tetap berupaya memulangkan mereka (PGOT) kepada keluarga masing-masing. 10 di antaranya pernah terjaring razia PGOT,” terang Agus.

Agus juga mengemukakan, pihaknya dalam tiga pekan ke depan akan intensif melakukan pengawasan dan razia pada setiap gelaran CFD. Pihaknya juga mentargetkan setelah dilakukan pengamanan, para PGOT akan langsung dipulangkan ke keluarga masing-masing.

Agus juga berharap agar para kerabat dapat benar-benar mengawasi dan merawat agar tidak kembali menjadi PGOT. Terlebih, meriahnya suasana CFD menjadi sasaran empuk bagi para pengemis untuk menjalankan aksinya.

Hal ini dirasakan sangat mengganggu bagi ketertiban, maupun kenyamanan masyarakat yang beraktivitas di gelaran seminggu sekali tersebut.

“Operasi ini merupakan tanggapan dari banyak laporan masyarakat yang mengeluhkan adanya pengemis dan pengamen, tentu ini mengurangi kenyamanan masyatakat dalam beraktivitas,” imbuh Agus.