JOGLOSEMAR.CO Opini Refleksi Petugas Kesehatan Harus Tanggap Darurat Seperti Ini

Petugas Kesehatan Harus Tanggap Darurat Seperti Ini

26
BAGIKAN
2101 - darurat kesehatan-11
Ilustrasi

Para pelayan kesehatan masyarakat dan petugas medis dituntut bersikap gesit, serta memiliki bersikap tanggap darurat. Pendeknya, mereka dituntut ringan tangan serta memiliki empati yang tinggi terhadap sesama. Tanpa empati, pelayanan kesehatan tak ubahnya pelayanan administrasi pada umumnya. Padahal kesehatan menyangkut nyawa seseorang.

Hasil Inspeksi Mendadak (Sidak) yang dilakukan oleh Bupati Sragen terhadap Puskesmas Plupuh 2 Kamis (19/1) kemarin  menunjukkan betapa sikap empati ternyata masih belum sepenuhnya dijadikan prinsip bagi pelayanan kesehatan.

Saat itu, sekitar pukul 12.30, Bupati Sragen yang kebetulan juga seorang dokter, mendapati seorang ibu yang hamil delapan bulan kondisinya kritis dan sudah mengalami pendarahan. Namun si pasien belum mendapatkan penanganan, padahal  bayinya sudah tidak bergerak  sejak pagi hari.  Mendapat teguran dari Bupati, para petugas Puskesmas pun kalang kabut dan berupaya secepatnya untuk merujuk pasien ke RSUD Gemolong.

Sikap kurang tanggap darurat di kalangan petugas kesehatan seperti di atas, kini menjadi perhatian bagi Bupati. Pasalnya, angka kematian ibu dan bayi di Sragen tergolong tinggi dan menempati urutan atas di lingkup Jateng. Sebagai contoh, selama tahun 2016 saja, sudah terdapat 17 kasus kematian ibu dan bayi di Sragen. Sementara di awal tahun 2017 sudah terdapat satu kasus kematian ibu melahirkan. Prihatin atas kondisi tersebut, Bupati menargetkan, tahun 2017 ini angka kematian ibu melahirkan bisa ditekan hingga di bawah 10 kasus.

Karena itu, Bupati berharap peran serta semua pihak mulai dari petugas medis, masyarakat dan bidan desa dapat bersinergi.  Keberhasilan pelayanan kesehatan rupanya merujuk pada pola sinergi segi tiga, yakni petugas medis, pasien dan masyarakat. Ketiga titik ini haruslah memiliki satu pemahaman yang sama untuk mencapai satu tujuan, yakni individu dan masyarakat yang sehat.

Pada sudut petugas kesehatan misalnya, empati terhadap pasien harus menjadi dasar utama dalam bertindak. Kasus di atas menunjukkan empati petugas kesehatan belum maksimal. Empati ini dalam sebuah peribahasa dapat diumpamakan sebagai “ukur  baju badan sendiri”, yakni selalu mengembalikan kondisi pasien terhadap dirinya. Apa yang dirasakan dan diderita pasien, mestinya direfleksikan  pada diri sendiri, sehingga muncul empati terhadap penderitaan pasien. Empati secara psikologis akan mendorong sebuah tindakan. Pada kasus di atas, karena empati belum menjadi pola sikap, tindakan medis terlambat sampai-sampai harus muncul teguran dari Bupati.