JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Solo Dapat Jatah 146 Kartu Tani

Solo Dapat Jatah 146 Kartu Tani

21
BAGIKAN
Salah seorang petani saat mengairi sawahnya. Foto : Maksum NF
Salah seorang petani saat mengairi sawahnya. Foto : Maksum NF

SOLO – Sebanyak 146 petani di Kota Solo mendapat bantuan Kartu Tani dari Pemerintah Provinsi Jawat Tengah (Jateng) melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Bale Tawangarum Balaikota Surakarta, Kamis (12/1/2017).

“Ada 146 petani yang dapat Kartu Tani di Solo. Ini kan terkait dengan luas lahan pertanian yang ada di Solo tidak begitu luas,” ujar Kepala Cabang BRI Solo Slamet Riyadi, Susanto di sela-sela peluncuran Kartu Tani Jateng di Bale Tawangarum, Kamis (12/1/2017).

Dengan memegang kartu ini, lanjut dia, petani bisa membeli pupuk subsidi dari pemerintah. “Luas lahan milik petani sudah terekam dan itu pengajuan dari kelompok petani. Itu termasuk kebutuhan pupuknya berapa untuk menggarap lahannya,” ungkapnya.

Dikatakan Susanto di Kota Solo hanya ada satu kios yang melayani pembelian pupuk bersubsidi bagi petani. “Ini ada evaluasi tiap satu tahun. Jadi akan tahu mana petani yang sudah beralih profesi dan mana yang tidak, jika sudah tidak jadi petani maka tidak akan dapat lagi,” imbuhnya.

Dari datang yang ada, di Solo lahan pertanian hanya 80 hektare dan kebanyakan petani yang ada berstatus pengarap bukan pemilik.

Berdasarkan Perda Provinsi Jateng Nomor 6/2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029, Solo menjadi salah satu wilayah yang wajib memiliki kawasan pertanian basah dan kawasan pertanian kering seluas 110 hektare. Namun di lapangan hanya ada 80 hektare saja.

“Sawah di Solo kedepan akan kita nol kan, jadi nanti Solo menjadi kawasan perkotaan dan sawah lestari ada di daerah penyangga,” terang Sekretaris Daerah (Sekda) Surakarta, Budi Yulistianto.

Nantinya Pemkot akan mengupayakan solusi bagi petani setelah lahan sawah ditutup. Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Peternakan Surakarta Weni Ekayanti mengatakan jika penggarapan sawah-sawah tersebut sudah tidak maksimal.

Karena hanya bisa dipanen dua kali dalam setahun. “Saat ini tinggal 146 warga yang tercatat sebagai petani,” terang dia.

Ari Welianto