JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Tak Mau Sendirian, Hartini Bidik yang Lain, Nantang KPK

Tak Mau Sendirian, Hartini Bidik yang Lain, Nantang KPK

426
BAGIKAN
2301 - jabatan
Dok
2607 - Begog
Begog D Winraso
Pekerja Pers Ketua Dewan Penasihat PWI Surakarta

      Perih. Malu. Bingung. Anyel. Dendam. Tak mau mati sendirian. Serangkaian rasa itu yang kini membongkah di dada Bupati Klaten (non-aktif) Sri Hartini. Karena itu, tersangka kasus dugaan suap jabatan – sekarang ditahan KPK – ini memutar otak. Hasilnya, membidik Sunarna, Bupati Klaten dua periode (2005-2010 dan 2010-2015), yang menurut versi (baca: ingatan) Hartini, saat menjabat berpraktik korupsi dan sejenisnya.

        Niat “luhur nan mulia” Hartini tersebut dilempar ke publik lewat pengacaranya, Deddy Suwardi. Ia yang kabarnya adik ipar Hartini ini menuturkan, kliennya berkeinginan menjadi  justice collaborator karena tahu dalam pemerintahan sebelum dia terjadi berbagai tindak korupsi. “Yang ingin diungkap pokoknya apa saja yang terkait korupsi. Salah satunya terkait pembangunan menara Masjid Agung Al-Aqsha, Klaten,” kata Deddy.

       Kita mencatat, proyek keagamaan itu dibangun di akhir kepemimpinan Sunarna pada jabatan periode kedua berduet dengan Hartini yang menjabat wakil bupati. Nilai proyeknya cukup besar, hampir Rp 66 miliar, menggunakan dana APBD Klaten.

       Selain itu, mengutip apa yang dikatakan Hartini, menurut Deddy, jual-beli jabatan (Deddy menyebut ‘uang syukuran’) bukan hal baru di Pemkab Klaten. Maksud dia, jual-beli atau suap terkait PNS yang diangkat atau dipromosikan jabatannya sudah merupakan tradisi. “PNS yang menyetor uang itu seperti sudah memahami tradisi ini,” papar Deddy, sembari berharap kasus suap yang membelit kliennya diungkap tuntas oleh KPK.

       Terang benderang sudah apa yang dikehendaki Hartini. Bahwa Hartini meminta KPK tak hanya mengusut kasusnya (jual-beli jabatan), tetapi kasus serupa di era kepemimpinan Sunarna. Pun kasus lain yang beraroma korupsi.