JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Hanya Terbaring, Gadis “Manusia Kayu” Asal Sragen ini Ternyata Rajin Salat dan...

Hanya Terbaring, Gadis “Manusia Kayu” Asal Sragen ini Ternyata Rajin Salat dan Bikin Cendera Mata

2409
BAGIKAN
BANTUAN PEDULI- Sejumlah pengurus Komunitas Tebu, Komunitas Jarang Pulang, Komunitas PPSS dan Laskar Bengawan saat menyambangi dan memberikan donasi kepada Sulami, gadis “Manusia Kayu” di rumah kecilnya di Selorejo, Kedawung, Minggu (8/1/2017). Joglosemar/yok
BANTUAN PEDULI- Sejumlah pengurus Komunitas Tebu, Komunitas Jarang Pulang, Komunitas PPSS dan Laskar Bengawan saat menyambangi dan memberikan donasi kepada Sulami, gadis “Manusia Kayu” di rumah kecilnya di Selorejo, Kedawung, Minggu (8/1/2017). Joglosemar/yok

SRAGEN– Allah memang maha adil. Meski di tengah keterbatasan fisiknya yang nyaris tak bisa kemana-mana, gadis asal Dukuh Selorejo, RT 31/11, Mojokerto, Kedawung, Sragen, Sulami (35) yang belakangan membuat heboh dengan kondisi penyakit anehnya yang disebut sebagai “manusia kayu”, ternyata masih memiliki keahlian yang biasanya dikerjakan oleh orang sehat.

Ya, kendati lebih banyak menghabiskan waktunya terbaring di tempat tidur, Sulami ternyata masih bisa menyempatkan untuk belajar membuat kerajinan tangan. Hebatnya, tanpa melihat karena kepala maupun lehernya tak bisa digerakkan, ia dengan mahir bisa membuat kerajinan tangan kecil-kecilan. Mulai dari tas tangan rajutan dari manik, PIN hingga bros.

“Saya belajar sendiri. Ini untuk mengisi waktu karena saya nggak bisa kemana-mana,” katanya Minggu (8/1/2017).

Untuk apa kerajinan itu ia buat? Sulami mengaku kerajinan kecil-kecilan itu sengaja ia tekuni untuk menghilangkan kejenuhan karena praktias selama berpuluh tahun ia hanya terbaring di tempat tidur. Hasil kerajinan yang ia buat, akan diberikan untuk teman-temannya yang kadang datang menjenguknya.

“Kalau ada yang mau beli, ya saya kasih. Tapi kebanyakan saya berikan untuk kenang-kenangan kalau ada teman yang datang,” tuturnya.

Tidak hanya itu, gadis yang mengenakan hijab itu ternyata juga sangat rajin menjalankan ibadah salat. Meski di tengah keterbatasan, ia menekuni ibadah walaupun kadang harus dengan terbaring atau sesekali dengan berdiri disertai bantuan tongkat. Wardoyo