JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Ternyata, Gadis “Manusia Kayu” Asal Sragen Terlahir Kembar. Yang Satu Meninggal Karena...

Ternyata, Gadis “Manusia Kayu” Asal Sragen Terlahir Kembar. Yang Satu Meninggal Karena Ini….

1488
BAGIKAN
BANTUAN PEDULI- Sejumlah pengurus Komunitas Tebu, Komunitas Jarang Pulang, Komunitas PPSS dan Laskar Bengawan saat menyambangi dan memberikan donasi kepada Sulami, gadis “Manusia Kayu” di rumah kecilnya di Selorejo, Kedawung, Minggu (8/1/2017). Joglosemar/yok
BANTUAN PEDULI- Sejumlah pengurus Komunitas Tebu, Komunitas Jarang Pulang, Komunitas PPSS dan Laskar Bengawan saat menyambangi dan memberikan donasi kepada Sulami, gadis “Manusia Kayu” di rumah kecilnya di Selorejo, Kedawung, Minggu (8/1/2017). Joglosemar/yok

SRAGEN– Gadis asal Dukuh Selorejo, RT 31/11, Mojokerto, Kedawung, Sragen, Sulami (35) yang belakangan membuat heboh dengan kondisi penyakit anehnya yang disebut sebagai “manusia kayu”, ternyata pernah terlahir kembar. Namun takdir berkata lain ketika ia harus kehilangan saudari kembarnya, Paniyem (35) empat tahun silam.

“Saudara kembar saya meninggal tahun 2012 lalu. Karena penyakit seperti ini juga,” ujar Sulami, ditemui di rumahnya, Minggu (8/1/2017).

Sepeninggal saudari kembarnya itu, Sulami kini hanya tinggal bersama neneknya, Ginem (70) di rumah kecil di Dukuh Selorejo, RT 31/11, Desa Mojokerto. Akibat kondisinya yang lumpuh total dan tubuhnya menjadi kaku tak bisa digerakkan, ia terpaksa hanya menghabiskan waktu sehari-hari dengan terbaring di tempat tidur.

Karena neneknya sudah renta, semua aktivitas jika ingin berdiri atau terbangun, keponakannya lah yang membantu membangunkan dan mendirikannya. Sementara untuk berjalan, ia ditopang sebilah tongkat kayu sebagai tumpuan.

“Ibu sudah nggak ada. Bapak ada tapi nggak di sini,’ tuturnya.

Sampai detik ini, Sulami mengaku tak tahu apa jenis penyakit yang dideritanya. Ia hanya mengetahui gejala kaku di sekujur tubuhnya itu terjadi ketika dirinya berusia 10 tahun dan awalnya muncul benjolan di leher.

Karena terus digaruk dan timbul luka, benjolan itu ternyata menjalar ke bagian tubuh lainnya hingga akhirnya sekujur tubuhnya perlahan tak bisa digerakkan. Selama bertahun-tahun pula, ia terpaksa harus kehilangan masa remaja bahkan hingga kini tak mengetahui dunia karena keterbatasan gerak tubuhnya.

“Dulu pernah diperiksakan ada juga rontgennya. Tapi dokter nggak mau mengoperasi katanya sudah nggak bisa dioperasi karena mengalami pengapuran. Terlalu berisiko untuk dioperasi,” tukas Sulami. Wardoyo