JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Wah, Petani Boyolali Tinggalkan Warisan Hari Pangan Sedunia

Wah, Petani Boyolali Tinggalkan Warisan Hari Pangan Sedunia

145
BAGIKAN
1101-jarwo-super
Joglosemar | Ario Bhawono
JARWO SUPER—Petani Desa Trayu dan Tanjungsari, Kecamatan Banyudono berkativitas di sawah Selasa (10/1/2017). Sebagian petani meninggalkan sistem Jarwo super saat HPS lalu, dan kembali ke cara lama.

BOYOLALI—Tanam serentak dengan sistem Jajar Legowo (Jarwo) Super yang diterapkan dalam peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) beberapa waktu lalu tidak diteruskan. Sebagian petani di Desa Trayu dan Tanjungsari, Kecamatan Banyudono justru kembali ke sistem  tanam yang lama.

Alih-alih meneruskan sistem tanam Jarwo Super yang terbukti keberhasilannya, sebagian petani justru bercocok tanam secara acak. Hal itu terlihat di areal pertanian di kedua desa tersebut, Selasa (10/1/2017). Sebagian lahan sudah terlihat tanaman padi yang tumbuh menghijau, sementara sebagian lainnya baru mulai ditanam dan baru dibajak.

Dalam sistem Jarwo Super, hamparan tanaman terlihat seragam dengan dua baris tanam dan satu baris kosong. Sementara, saat ini yang terlihat para petani menggunakan pola lama, yakni ada yang 3,4,5, hingga 6 baris, baru kemudian sebaris kosong.

Terkait ini, sejumlah petani beralasan tanam serentak harus antre buruh tanam. Sehingga pola tanam serentak menurut mereka sulit dilakukan. Sedangkan mengenai pola tanam, mereka enggan menerapkan pola 2:1 karena menilai hasilnya masih kurang.

“Memang lebih bagus kalau tanam serentak, tapi tampaknya tidak mungkin karena harus antre buruh tanam,” tutur salah satu petani, Sabeni (36).

Dia mengakui pola Jarwo Super diakui mampu mendongkrak produksi. Namun pola tersebut kemudian dikembangkan petani dengan lebih banyak baris yang isi, dengan harapan hasil panen akan lebih banyak. “Saya kembangkan dengan pola 3:1 supaya hasilnya lebih banyak lagi,” kata dia.

Petani lainnya, Suparo (45), mengaku tidak bisa melakukan tanam serentak. Sebab, banyak lahan yang sudah dibebaskan untuk proyek jalan tol. Menurut dia, lahan sawah tersebut sebenarnya sudah dibebaskan dan diminta dikeringkan oleh pelaksana tol. Namun karena belum diketahui kapan proyek tersebut dimulai, masih banyak petani yang memanfaatkannya.

Terpisah, penanggung jawab pertanian Jarwo Super, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng, Budi Hartoyo mengatakan, pihaknya masih tetap mendampingi petani pasca HPS bulan Oktober tahun lalu. “Tapi memang pendampingan tak bisa maksimal seperti saat persiapan HPS. Semestinya dari kelompok tani atau PPL yang aktif mendampingi petani,” imbuh dia. # Ario Bhawono