JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Warung Maksiat Kedung Kancil Dihancurkan

Warung Maksiat Kedung Kancil Dihancurkan

403
BAGIKAN
ilustrasi pembongkaran. Foto : dok Joglosemar
ilustrasi pembongkaran. Foto : dok Joglosemar

SRAGEN—Tim gabungan dari Polsek Miri dan Muspika setempat membongkar paksa sebuah gubuk atau warung kosong di area Kedung Kancil, Desa Brojol, Kecamatan Miri, Kamis (26/1/2017).

Pembongkaran terpaksa dilakukan lantaran selama ini warung milik  Warjo (70), warga Dukuh Bibis RT 10, Desa Brojol, Kecamatan Miri itu dianggap meresahkan warga.

Keresahan warga tak lain karena warung yang terbuat dari bambu dan kayu tersebut ditengarai sering menjadi ajang maksiat bagi para pemuda setempat dan sekitarnya.

Tidak hanya ajang pesta miras, warung yang berlokasi di tepi bendungan Kedung Kancil itu juga tak jarang dipergoki untuk mesum.

Pembongkaran dilakukan oleh tim Polsek Miri yang dipimpin langsung oleh Kapolsek AKP Fajar Nur Ihsanudin. Tim juga melibatkan Kanit Sabhara, Babinkamtibmas Miri, staf kecamatan, Koramil hingga perangkat maupun tokoh masyarakat setempat. Meski ada pemiliknya, pembongkaran berjalan relatif mulus tanpa ada penolakan atau perlawanan dari pemilik.

“Kios atau warung itu memang milik Pak Warjo, tapi sudah lama dikosongkan. Nah, hari ini (kemarin) kita bongkar karena laporan yang kami terima dari warga, warung itu sering digunakan untuk maksiat. Mulai dari ajang pesta miras maupun perbuatan mesum,” ujar Kapolsek.

Pembongkaran juga menindaklanjuti permintaan warga serta tokoh masyarakat setempat yang sudah lama menahan kesabaran melihat perilaku maksiat di warung tersebut.

Atas dasar itulah, Polsek akhirnya memenuhi permintaan itu, setelah terlebih dahulu melakukan rapat koordinasi dengan Muspika, Koramil, tokoh masyarakat, maupun perangkat Desa Brojol.

Salah satu warga, Wagimin (60), asal Dukuh Rejosari RT 9, Desa Brojol, Kecamatan Miri mengakui sejak beberapa waktu lalu, warga memang sudah resah dengan keberadaan warung kosong milik Warjo tersebut. Pasalnya, keberadaan warung itu justru banyak disalahgunakan untuk kegiatan negatif dan sangat meresahkan.

“Kadang dipakai anak muda kumpul-kumpul bawa miras, lalu minum-minum di situ. Pernah pula dipakai pacaran dan hal-hal mesum lainnya. Warga sudah tidak tahan dan takut warung itu justru membawa bencana karena sering dipakai maksiat,” timpal Didik, warga lain.

Wardoyo