Kapolda Jateng Sebut Konvoi dan Corat-Coret Kelulusan Bukan Budaya Indonesia

Kapolda Jateng Sebut Konvoi dan Corat-Coret Kelulusan Bukan Budaya Indonesia

413
KUNJUNGAN KERJA- Kapolda Jawa tengah, Irjen Pol COndro Kirono (tengah) didampingi Kabid Humas Polda, Kombes Pol R. Djarod Padakova (kanan) dan Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso saat melakukan kunjungan kerja ke Sragen, Rabu (22/2/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Mendekati momentum Ujian Nasional (UN) dan kelulusan SMA/K, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono menginstruksikan semua jajaran Polres untuk menindak tegas setiap pelajar yang melakukan euforia kelulusan dengan konvoi dan corat-coret di tempat umum.

Penegasan Kapolda itu disampaikan terkait antisipasi menjelang kelulusan siswa jenjang SMA/K, Rabu (29/3/2017). Kepada Joglosemar, ia mengatakan sudah menginstruksikan kepada seluruh Kapolres se-Jawa Tengah, untuk bersiaga menjelang pengumuman kelulusan SMA/K.

Semua Polres diharapkan tetap menjaga kondusivitas wilayah masing-masing dengan mencegah tindakan euforia berlebihan atas kelulusan siswa. Jika ada siswa yang nekat melakukan euforia dengan hal negative seperti konvoi kendaraan hingga corat-coret, Polres diminta tak segan untuk langsung menindak tegas.

“Saya perintahkan para Kapolres untuk menindak apabila ada pelajar yang konvoi kendaraan maupun pesta-pesta miras saat kelulusan. Termasuk corat-coret di tempat umum, agar ditindak. Karena itu bukan budaya bangsa Indonesia,” paparnya.

Baca Juga :  Bupati Sragen Mantap Lanjutkan Penataan SOTK Pemerintah Desa

Lebih lanjut, Kapolda mengimbau kepada siswa yang akan lulus, untuk menanggalkan budaya euforia berlebihan dalam meluapkan kegembiraan. Menurutnya, luapan dengan konvoi kendaraan, corat-coret baju di tempat umum apalagi pesta perpisahan dengan mengonsumi miras atau obat terlarang, bukan budaya negeri ini.

Sebaliknya, kelulusan akan lebih baik disikapi dengan mengucap syukur dan doa bersama supaya selanjutnya bisa meneruskan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi dengan lancar.

Instruksi itu langsung direspon Polres Sragen dengan menggelar Deklarasi Pelajar seluruh SMA/K seluruh Sragen untuk menyatakan anti hura-hura, corat-coret dan konvoi kelulusan, di GOR Diponegoro Sragen, Rabu (29/3/2017).

Deklarasi yang diikuti 30.108 pelajar kelas XII (tiga) seluruh SMA/K itu bahkan mendapat penghargaan dan masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori deklarasi siswa dengan peserta terbanyak. Deklarasi dipusatkan di GOR DIponegoro Sragen dengan dipimpin langsung Kapolres Sragen, AKBP Cahyo Widiarso bersama jajaran Muspida.

Baca Juga :  Ada 4.525 Kasus, Hipertensi Jadi Pembunuh Tertinggi di Sragen

Dalam deklarasi itu, puluhan ribu siswa itu membacakan ikrar bersama untuk tidak melakukan konvoi kendaraan, corat-coret, dan hura-hura saat kelulusan nanti. Kapolres mengungkapkan deklarasi itu digagas sebagai bentuk komitmen Polres untuk menjaga kondusivitas dan menghindarkan siswa agar tidak melakukan euphoria kelulusan dengan hal-hal negatif.

Menurutnya, deklarasi itu juga sebagai momentum untuk memulai tradisi baru kelulusan sekolah dengan meninggalkan budaya hura-hura dan sejenisnya. Sebaliknya, sekolah, guru, dan semua pelajar akan diarahkan untuk merayakan kelulusan dengan menggelar sujud syukur, kegiatan keagamaan seperti pengajian dan lain sebagainya.

“Sudah saatnya kita mulai tradisi baru. Kelulusan tidak harus dengan konvoi, hura-hura atau corat-coret baju. Makanya hari ini kita dan semua siswa mencanangkan di Sragen tidak boleh ada lagi corat-coret, konvoi dan hura-hura kelulusan,” paparnya. #Wardoyo

BAGIKAN