Keniscayaan Metamorfosis Persis Gotong Royong

Keniscayaan Metamorfosis Persis Gotong Royong

861
Logo Persis Muda. Foto : Dok Joglosemar

Tanggapan Artikel Ardian Nur Rizki  “Ambiguitas Persis Muda” 

 

Trisno Yulianto
PNS di Dinas PND Magetan

Keprihatinan atas dualisme PERSIS solo dalam kancah persepakbolaan nasional yang disuarakan banyak pihak memiliki dimensi rasionalitas. Persis  sebagai klub kebanggaan Kota Solo yang memiliki memori historis teramat istimewa, karena menjadi elemen penting perintis organisasi sepakbola nasional, kini terbelah menjadi dua kutub antara Persis yang berlaga di level kompetisi Liga2 dengan Persis Muda Gotong Royong yang berjuang di kancah liga 3 (eks Liga Nusantara).

Meskipun dalam  dinamika persepakbolaan nasional Persis sempat mengalami dualisme organisasi (manajerial) di tahun 2013 antara Persis Solo yang bergabung dalam wadah kompetisi LPIS dengan Persis Solo yang bertanding dalam bendera PT Liga Indonesia.

Persis sebagai klub profesional di bawah bendera PT Persis Solo Saestu  saham mayoritas dimiliki oleh PT SPN yang big Bosnya adalah Sigit Haryo Wibisono, sedangkan Persis Muda Gotong Royong di bawah naungan Asosiasi Sepakbola Kota (Askot) Solo yang kini ditopang investor baru, seorang pengusaha lokal.

Persis yang akan berkiprah di Liga2 bersaing dengan 60 klub profesional seluruh Indonesia, diguyur anggaran Rp 5-6 miliar oleh Sigid Haryo Wibisono, sedangkan Persis Muda didukung sumber finansial yang konon mencapai angka Rp 5 miliar.

Launching Persis Muda Gotong Royong yang berambisi lolos ke putaran Liga2 tahun 2018 sendiri dirancang mewah di Hotel Aston  sebagai wujud peneguhan eksistensi klub yang dianggap masih mencerminkan kepentingan jagat persepakbolaan Kota Solo. Persis Muda memiliki ambisi yang besar untuk lolos ke kasta liga 2 dengan membangun tim yang solid di bawah kepelatihan mantan legenda Arseto, Eduard Tjong.

Tepat sekiranya representasi keprihatinan publik penggemar sepak bola di Solo atas “dualisme” Persis  dalam kompetisi sepak bola Nasional disuarakan oleh Ardian Nur Rizki   melalui secuplik kritik retoris dalam esai yang menggugat ambiguitas Persis Muda (Joglosemar, 24 Maret 2017).

Ardian mengkritisi ambisi Persis Muda yang keluar dari “khittah” sebagai kawah candradimuka pesepakbola muda Kota Solo dan juga sebagai penyokong  bibit potensial bagi Persis.  Persis Muda dipersepsikan tidak lagi mengemban  fungsi sebagai tim reserve bagi Persis senior yang kini entitasnya menjadi klub profesional.

Kritik dan mungkin cibiran banyak pihak atas entitas, ambisi dan proyeksi Persis Muda yang tidak lagi memosisikan diri sebagai tim “cadangan” atau tim reserve dan tim suksesor Persis, bisa diterima sebagai masukan positif. Namun tidak juga merupakan kebenaran yang otentik.

Sangat tidak fair jika banyak pihak — termasuk Ardian Nur Rizki –membandingkan entitas Persis Muda  dan Persis dengan klub-klub profesional di Benua Biru atau di Negara yang maju industri persepakbolaannya. Membandingkan Persis-persis Muda dengan eksistensi Barcelona dengan Barcelona B,  adalah hal yang salah kaprah.

Persis dalam logika hukum publik bukanlah dimiliki oleh klub-klub amatir yang kini bergabung dalam wadah askot PSSI Kota Solo. Persis juga tidak memiliki kontribusi signifikan dalam merintis, mengembangkan, memfasilitasi dan mendanai kegiatan Persis Muda.

Persis Muda gotong royong yang berjuang di Liga 3 — sebelumnya berkompetisi di ajang “turnamen” Liga Nusantara tahun 2016 — dalam realitas kekinian tidak bisa disebutkan sebagai tim reserve Persis yang dimiliki PT Persis Solo Saestu dengan pemegang saham mayoritas PT SPN. Logikanya: Pertama, Persis yang berlaga di Liga2 tidak memiliki agenda strategis (strategic plan) untuk membangun basis kekuatan klub berdasar regenerasi pemain muda.

Tidak ada upaya mengembangkan Tim usia muda  yang dibiayai oleh PT Persis Solo Saestu atau PT SPN.  Sejak tahun 2016, program membentuk Persis U-21, Persis U-19 tidak ada dalam benak petinggi-pemilik-owner Persis.  55 % pemain Persis solo yang berkompetisi di ISC B tahun 2016 pemain dari luar pembinaan klub-klub di Kota Solo, dan tahun 2017 untuk persiapan Liga2 65 % pemain Persis adalah berasal dari luar Kota Solo.

Kedua, tidak ada kerja sama yang legal antara Persis dengan Askot PSSI Kota Solo — termasuk dengan klub-klub amatir yang selama puluhan tahun menjadi penyokong pemain Persis Solo — dalam hal memberikan kuota (jatah) pemain muda binaan klub-klub di Kota Solo untuk diprioritaskan menjadi pemain Persis. Hal yang ironis banyak pemain muda Kota Solo yang mengadu nasib ke berbagai klub profesional di seantero negeri karena tidak dilirik oleh Persis.

Dan banyak pemain muda Kota Solo yang justru berhasil mengantarkan klub-klub profesional di luar Kota Solo ke berbagai capaian prestasi. Candra Waskito sukses menjadi bintang di PSS Sleman yang berjaya di kompetisi ISC B sebagai contohnya. Dan beberapa pemain muda Kota Solo yang bermain di Persinga Ngawi juga sukses mengantarkan klub dari kabupaten kecil di Jatim menjadi runner up Piala Kemerdekaan tahun 2015.

Ketiga, Persis yang bertanding dalam kompetisi ISC 2016 dan Liga2 pada hakikatnya bukan seperti  Persis yang merupakan milik warga kota di era 50-an sampai 2006. Namun Klub Profesional yang  saham mayoritasnya dimiliki PT SPN  berkompetisi untuk mengejar eksistensi dan gengsi. Catatan penting: Persis saat ini hidup matinya tergantung pada investor dan bukan semangat “gotong royong” para partisan dan penggiat sepakbola Kota Solo.

Boleh jadi nasib ke depan Persis Solo akan serupa dengan Persijatim, Persires dan beberapa klub lain yang dijual oleh pemilik saham mayoritas ke investor baru yang akan membawanya pergi dari Solo. Sudahkah ada proporsi share saham Persis Solo kepada klub-klub amatir Kota Solo sebagai penanda Pesis milik publik Kota Solo?

Keempat, tidak ada jaminan pemain potensial Persis Muda menjadi bagian komposisi  skuad Persis di Liga2.  Hanya beberapa pemain eks Persis Muda   yang sesuai selera manajemen  yang dimasukkan dalam tim Persis di liga2.

Hal ini menunjukkan Persis tidak memiliki desain promosi-degradasi pemain muda dengan mengoptimalisasikan sumber daya yang ada di Persis Muda.  Persis Solo yang jelas sebagai klub tidak memiliki program yang intensif untuk memantau, dan memfasilitasi perkembangan kapasitas pemain muda Kota Solo.

Jadi hal yang aneh jika ada pendapat yang meniscayakan Persis Muda menjadi reserve bagi Persis yang kini telah berubah wajah dan orientasi. Tidak bisa juga disalahkan jika Persis Muda dengan kepemilikan publik, dan didukung investor lokal berambisi masuk dalam kasta Liga2.

Andai  terwujud ambisi Persis Muda gotong royong lolos ke Liga2 dan Persis gagal promosi ke Liga1 maka tahun depan rivalitas keduanya akan menjadi fenomena baru dalam dinamika persepakbolaan  Kota Solo.

Dalam pandangan penulis, hal yang positif jika Persis Muda bermetamorfosis menjadi Klub profesional nantinya. Hal yang menggembirakan jika Persis Muda lolos ke Liga2 tahun depan, karena akan menggairahkan persepakbolaan Kota Solo. Persis Muda akan menjadi naungan bibit-bibit potensial pemain sepak bola dari Kota Solo.

Semakin banyak klub di Kota Solo dan daerah sekitarnya yang berkompetisi di kasta Liga 2 atau Liga1 akan menjadi magnet bagi perkembangan sepakbola Solo Raya yang selama ini prestasinya kalah dibanding regional lain di Pulau Jawa.

Namun catatan pentingnya adalah metamorfosis Persis Muda menjadi Klub profesional tidak boleh menanggalkan jati diri bahwa Persis Muda adalah milik publik. Sehingga saham mayoritas Persis Muda tetap di tangan klub-klub penyokong eksistensi sejarah Persis Solo.

Posisi Investor seharusnya tidak “berkuasa” absolut dalam menentukan arah perjalanan sebuah klub yang menjadi ikon publik. Harus ada mutual understanding yang jelas dan tegas bahwa posisi investor atau pemilih saham mayoritas di klub sepakbola yang menjadi ikon publik (kota) adalah sebagai pendukung utama keberlangsungan eksistensi klub. ****

BAGIKAN