Membedah Bisnis Rosok di Solo, Kotor Namun Bisa Diandalkan

Membedah Bisnis Rosok di Solo, Kotor Namun Bisa Diandalkan

103
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
BISNIS ROSOK- Pekerja beraktivitas di gudang jual beli besi tua dan rosok UD. Harso Jalan Singasari Timur, Nusukan, Solo, Sabtu (11/3).

Berawal dari ide tiba-tiba ingin usaha rosok, Harso Witono (86) membeli timbangan dan menyewa sebuah kios kecil di Jalan Singosari Timur, Nusukan, Banjarsari, Surakarta. Usaha rosok yang digelutinya sejak tahun 1984 ini awalnya belum diketahui orang.

Baru dua bulan setelahnya, satu per satu orang mulai datang. Siapa saja, barang apa saja dan dengan jumlah seberapun Harso layani.

Lama-kelamaan ketika bisnisnya mulai besar dan dikenal banyak orang, kios yang di sewa Harso sudah tak cukup lagi untuk menampung rosok-rosok tersebut.

Baca Juga :  Ada Pizza Nusantara di Aston Solo Hotel

Bapak dari sepuluh anak ini kemudian membeli bangunan di depan kiosnya. Bangunan tersebut kini menjadi gudang bisnisnya. Berbagai rosok tersedia, mulai dari besi, kuningan, aluminium, seng, tembaga, buku, kertas, kardus, botol, hingga plastik.

Narni Suparno (55), anak pertama dari Harso kini ikut membantu menjalankan bisnis tersebut. Berperan dalam bagian administrasi sebagai orang yang mencatat nota pembelian dan penjualan, Narni mengakui bahwa bisnis yang digeluti bapaknya selama 33 tahun telah mengalami jatuh bangun.

Pasalnya, harga harga rosok sering naik-turun. “Kalau harganya naik kami untung, kalau harga pas turun kami rugi,” ceritanya yang pernah membeli barang seharga Rp 4.000 dan hanya terjual separuh harga.

Baca Juga :  Novotel Solo Dukung Wisata MICE

Untuk keuntungan dari bisnis rosok sendiri, Harso dan Narni tidak dapat menyebutkannya dengan pasti. Hal ini dikarenakan tidak semua barang yang mereka beli telah terjual.

“Dalam sehari bisa habis uang Rp 10 juta, tapi yang kembali tidak mesti. Jadi hasil dari bisnis saya ya itu, rosok. Uang yang diperoleh dipakai buat beli lagi. Selalu begitu,” terang Narni.

1
2
3
BAGIKAN