Palang Kereta Api Manahan Ternyata Akan Digeser, Begini Penjelasannya

Palang Kereta Api Manahan Ternyata Akan Digeser, Begini Penjelasannya

1765
Joglosemar|Maksum Nur Fauzan
OVERPASS MANAHAN–Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo bersama pegawai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang mengunjungi lokasi perlintasan Kereta Api Manahan, Selasa (7/2). Menurut rencana Overpass Manahan akan mulai dibangun pada April.

SOLO – Palang perlintasan kereta api yang berada di Manahan bakal digeser. Hal ini sehubungan dengan rencana pembangunan flyover Manahan yang dimulai Juni mendatang.

Penegasan ini disampaikan Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo saat dijumpai dalam sebuah kesempatan di gedung DPRD. Dirinya berujar, palang perlintasan harus digeser dari posisi semula selama pembangunan jalan layang itu,

“Palang perlintasan kereta api di Manahan akan digeser sedikit dari posisi semula. Namun, kami belum berkoordinasi dengan PT KAI Daop 6 Yogyakarta. Tapi secepatnya akan kami koordinasikan sebelum pembangunan dimulai,” ungkapnya.

Tidak hanya palang pintu perlintasan kereta api, tiang listrik di sekitar pembangunan flyover juga akan digeser.

Baca Juga :  Seribuan Guru SD dan SMP di Solo Jalani Tes Urine

Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan PLN sehingga nantinya penerangan jalan tidak terganggu akibat pembangunan flyover. 

“Kami sudah berkoordinasi dengan PLN untuk penggeseran tersebut,” tegasnya.

Disampaikan Rudy, anggaran pembangunan flyover  semuanya  berasal  dari  APBN.

Sedangkan, alokasi APBD 2017 yang sudah dianggarkan bakal digunakan untuk pembebasan lahan.

Karena setelah dilakukan analisa, ada beberapa tempat yang terkena dampak pembangunan flyover sehingga harus mendapatkan ganti untung

Di lokasi terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dishub Surakarta, Sri Baskoro mengatakan belum ada keputusan mengenai ruas jalan alternatif selama pembangunan flyover. 

“Untuk Detail Engineering Design (DED) sedang dibuat. Kami pun saat ini masih melakukan pengkajian pengalihan arus lalu lintas karena ini sehubungan dengan kekuatan jalan yang akan dilalui. Sesuai dengan aturan yang ada, jalan alternatifnya memiliki kelas satu tingkat lebih rendah dari jalan yang ditutup,” katanya, Jumat (17/3/2017).

Baca Juga :  Begini Cara Himpunan Ratna Busana Sambut HUT ke-72 RI

Baskoro menjelaskan bakal melakukan analisa lebih rinci karena tidak mau diprotes oleh masyarakat lantaran kondisi jalan rusak dan semakin padat.

Hanya saja pihaknya menegaskan jika jalan kampung tidak bisa dijadikan jalur alternatif. Harusnya, lanjut dia, disesuaikan dengan tonase kendaraan yang lewat di sana.

Murniati

BAGIKAN