Ratusan Pedagang Pasar Teloyo Digugat, Ternyata Buntut Sengketa 50 Tahun Lalu

Ratusan Pedagang Pasar Teloyo Digugat, Ternyata Buntut Sengketa 50 Tahun Lalu

75
Joglosemar | Dani Prima
SURAT PANGGILAN—Para pedagang Pasar Teloyo Kecamatan Wonosari menunjukkan surat pemanggilan dari PN Klaten sebagai tergugat dalam perkara sengketa lahan di Halaman PN Klaten, Kamis (30/3).

KLATEN—Ratusan pedagang Pasar Teloyo Kecamatan Wonosari menggeruduk Pengadilan Negeri (PN) Klaten, Kamis (30/3/2017). Para pedagang ini digugat karena menempati lahan 4.200 meter persegi yang disengketakan.

Sengketa lahan ini bermula dari ketidakberesan proses tukar guling lahan antara Pemerintah Desa (Pemdes) Teloyo dengan pemilik lahan pada tahun 1967 silam.

Koordinator para pedagang, Purwanto menjelaskan, ratusan pedagang mendatangi PN Klaten untuk memenuhi panggilan karena digugat pemilik lahan.

Menurut pedagang kelontong  ini, ada sekitar 122 pedagang Pasar Teloyo yang dipanggil PN Klaten untuk sidang pertama.

Pedagang menilai, gugatan tersebut salah alamat. Seharusnya, kata dia, yang digugat Pemdes karena lahan pasar yang mengurus Pemdes, bukan pedagang.

Baca Juga :  Asyik Merekap Togel, Tambang Diciduk Polisi

“Kami kaget dengan adanya surat panggilan dari PN Klaten karena tidak ada informasi sebelumnya. Surat diterima sekitar pertengahan Maret. Terlebih lagi selama ini pedagang juga rutin membayar retribusi dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),” katanya.

Purwanto menjelaskan, sengketa lahan seluas sekitar 4.200 meter persegi itu milik Slamet Siswodihardjo (2.500 meter persegi) dan Suratno (1.700 meter persegi).

Pasar Teloyo dibangun pada tahun 1968 di atas tanah milik Slamet dan Dasiman Kartodikoro (yang dijual kepada Suratno) setelah terjadi proses tukar guling dengan sawah kas desa pada tahun 1967.

Baca Juga :  Ribuan Liter Miras Dimusnahkan Polres Klaten

Pembangunan tahap awal dilakukan dengan mengapling lahan sawah menjadi 45 kios dan penempatan dilakukan dengan sistem undian.

Sedangkan pembangunan kios dilakukan pedagang masing-masing pedagang dengan bentuk dan ukuran sesuai aturan dari desa.

”Harapan kami pasar masih tetap pasar. Hanya bagaimana (penyelesaian) yang akan diperbuat oleh pemerintah kaitannya dengan hal tersebut. Jadi pedagang tenteram dan nyaman mencari rezeki di pasar,” imbuh Purwanto.

Dani Prima

BAGIKAN