JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Market Badan Ekonomi Kreatif Sebut Produk Bajakan Gerus Ekonomi Kreatif

Badan Ekonomi Kreatif Sebut Produk Bajakan Gerus Ekonomi Kreatif

38
BAGIKAN
Pengunjung melihat berbagai jenis batu akik dan batu mulia pada Pameran Bursa dan Wisata Kerajinan Batu Akik dan Batu Mulia, Minggu (19/04/2015) di kawasan Sitihinggil Keraton Solo. Pada acara tersebut Keraton Solo tak ketinggalan memamerkan koleksi batu akik milik kerabat dan putra dalem. Foto: Joglosemar/Maksum Nur Fauzan

SOLO – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menilai adanya pembajakan  produk ekonomi kreatif berpengaruh negatif bagi eksistensi produk kreatif itu sendiri.

Guna menekan angka pembajakan tersebut, Tim Anti Pembajakan menggelar sosialisasi  bagi pelaku ekonomi kreatif di Hotel Sala View, Kamis (13/4/2017).

Sosialisasi ini dihadiri puluhan pelaku industri maupun Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ekonomi kreatif yang berada di Eks Karesidenan Surakarta.

Menghadirkan narasumber yang termasuk dalam tim yakni Ketua Kelompok Kerja Edukasi Publik Tim P4 Ekraf, Marcella Zalianty, Ketua Kelompok Kerja Pengaduan Tim P4 Ekraf, Binsar Silalahi, Ketua Kelompok Kerja Monitoring Tim P4 Ekraf, Rahayu Kertawiguna, dan Kepala Sub Direktorat Advokasi HKI Bekraf RI, Muhammad Fauzy.

“Sosialisasi ini secara garis besar hendak melindungi produk ekonomi kreatif dari pembajakan dengan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Milik Intelektual adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR). Industri kreatif berpotensi untuk tumbuh dan semakin membutuhkan perlindungan karena masih harus menghadapi beberapa tantangan,” jelas Kepala Sub Direktorat Advokasi HKI Bekraf RI, Muhammad Fauzy kepada wartawan, Kamis (13/4/2017). Disebutkannya produk media optik bajakan, seperti CD, VCD, DVD, dan CD-ROM, masih mendominasi pasar Indonesia.

Fauzy mengatakan Kota Solo menjadi gelaran kedua setelah Ambon dalam kegiatan sosialisasi, sebab Kota Solo dinilai memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar.

“Dari tempat-tempat sosialisasi yang kami sambangi diharapkan dapat menyebar ke daerah lain. Juga karena ini sangat penting untuk melindungi hak cipta maupun hak moril yang akan mempengaruhi nilai ekonomi dari produk tersebut,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Kelompok Kerja Edukasi Publik Tim P4 Bekraf, Marcella Zalianty mengatakan tujuan sosialisasi ini tak lepas karena belum adanya pencegahan yang baik untuk pembajakan, baik dari segi preventif maupun represif.

“Februari 2008, kasus bajakan membuat kerugian Rp 1 triliun dan ini hanya wilayah DKI saja. Dari kerugian tersebut 2,1 cakram film dan musik disita karena memang dari sektor film dan musik paling banyak pembajakannya. Sehingga tim ini akan menjadi kepanjangan tangan dari Pemerintah pusat untuk melindungi produk kreatif yang memiliki potensi tinggi di Indonesia ini,” imbuhnya.

Garudea Prabawati