JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Begini Rencana Pemkab Sikapi Maraknya “Aksi” Rentenir di Pasar Sragen

Begini Rencana Pemkab Sikapi Maraknya “Aksi” Rentenir di Pasar Sragen

223
BAGIKAN
Joglosemar | Wardoyo
Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati bersama Wakilnya, Dedy Endriyatno saat bersantai, beberapa waktu lalu.

SRAGEN – Pemkab Sragen mengaku dilematis menyikapi kian suburnya praktik rentenir atau lintah darah yang belakangan makin berkeliaran menyasar pedagang di hampir semua pasar di wilayah Sragen.

Wakil Bupati Sragen, Dedy Endriyatno mengaku sudah mendapat laporan dari masyarakat terkait praktik rentenir yang kian marak.

Ia menyebut operasional rentenir itu paling tinggi berada di Pasar Gemolong, Pasar Bunder dan Pasar Kota serta pasar-pasar di daerah atau kecamatan.

Meski menjual jasa pinjaman dengan bunga mencekik, menurutnya rentenir tak bisa serta merta ditindak.

Selain belum jelas statusnya apakah lembaga pembiayaan formal atau tidak, transaksi dengan peminjam atau pedagang biasanya lebih bersifat personal.

“Sepertinya mereka itu terorganisir. Di mana-mana ada. Tapi kita tak bisa melarang kalau itu transaksi personal. Yang bisa dilakukan adalah bagaimana mencari formula untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan masyarakat. Mungkin cara mereka (rentenir) itu bisa dipakai seperti kemudahannya. Misalnya pinjaman di bawah Rp 1 juta bisa tak pakai agunan tapi harus benar-benar selektif dan orang yang bisa dipercaya,” paparnya, Selasa (4/4/2017).

Ia menilai praktik rentenir sebenarnya sangat merugikan masyarakat karena beban bunga yang dibayar jauh lebih tinggi dari lembaga resmi.

Lantas, cara-cara kasar dari rentenir yang tak segan mengerahkan juru tagih untuk mengambil paksa barang apabila peminjam macet, juga dinilai kurang pas.

Meski demikian, ia tidak ingin menyalahkan pihak mana pun. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana mencari solusi untuk mengikis ketergantungan pedagang atau UKM terhadap rentenir.

Terkait hal ini, Pemkab tengah menggodok kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) untuk melakukan pengambilalihan (take over) pinjaman pedagang kecil dari rentenir.

“Ini baru disusun formulasi yang tepat. Mungkin dengan mencoba beri dana pinjaman ke pedagang pasar untuk menutup kredit mereka ke rentenir. Nanti diberi modal lagi, sehingga tidak lagi mengambil ke rentenir,” terangnya.