Begini Semarak Kegiatan Hari Kartini di SMAN 1 Sragen

Begini Semarak Kegiatan Hari Kartini di SMAN 1 Sragen

197
HARI KARTINI- Para peserta pemilihan Putra dan Putri SMAN 1 Sragen saat mengikuti tahapan penilaian dalam lomba memeriahkan Peringatan Hari Kartini, Kamis (20/4). Foto : WArdoyo

Kemeriahan begitu terlihat di SMAN 1 Sragen, Kamis (20/4/2017). Sejak pagi, ratusan siswa dan seluruh guru karyawan di SMAN terfavorit di Bumi Sukowati itu tampak lain dari biasanya. Seragam sekolah yang biasa dikenakan siswa hari itu ditanggalkan berganti dengan pakaian adat.

Siswa laki-laki mengenakan surjan yang siswa perempuan mengganti dengan kebaya. Semua guru dan karyawan pun juga tak ketinggalan mengenakan beskap dan kebaya.

Agenda belajar mengajar seharian juga ditiadakan dan diganti dengan beragam agenda mulai dari fashion show Hari Kartini yang diikuti guru dan karyawan, pasar murah, pentas seni, teater dan lomba desain batik yang diikuti para siswa. Puncaknya, dilakukan pemilihan putra-putri SMANSa yang sekaligus menutup rangkaian agenda Kartinian kemarin.

Baca Juga :  Prostitusi Kemukus Bangkit Lagi, Mayoritas Pemandu Karaoke Masih Muda

“Sengaja hari ini semua siswa, guru dan karyawan berhenti sejenak dari aktivitas pembelajaran. Khusus untuk memeriahkan peringatan Hari Kartini. Karena berbagai kegiatan ada bazar sampai lomba itu juga bagian dari belajar bagaimana melestarikan budaya,” papar Kepala SMAN 1 Sragen, Bambang Margono.

Menurutnya, agenda yang digagas OSIS dan semua guru karyawan itu memang sengaja digeber dengan memadukan tema budaya dan Hari Kartini.

Selain kewajiban mengenakan pakaian adat, lomba desain batik yang digelar pun juga dimaksudkan untuk melestarikan dan menanamkan semangat melestarikan budaya Jawa di kalangan warga sekolah.

Baca Juga :  Kehebohan di PMI Sragen Saat Pemeriksaan Sri Wahyuni. Banyak Yang Minta Selfie..

Bazar yang dibuat siswa dengan menjual aneka makanan pun juga bertemakan Jawa. Ada brambang asem, pecel, dan masakan khas Jawa yang di kreasi dan dijual sendiri oleh siswa.

Lewat momen seperti itu, diharapkan generasi muda bisa mengetahui warisan budaya dan melestarikannya.

“Jangan sampai dimiliki atau diklaim bangsa lain. Karena sekarang orang asing sudah mulai latihan gamelan dan sinden juga. Malah ngalah-ngalahin orang Indonesia. Kalau nggak ditanamkan ke anak-anak, bisa-bisa nanti dicaplok negara lain baru geger,” jelasnya.

Wardoyo

BAGIKAN