JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Pendidikan Cerita Peraih Gelar Wisudawan Terbaik IAIN Surakarta, Jualan Arem-Arem hingga Jilbab Dilakoni

Cerita Peraih Gelar Wisudawan Terbaik IAIN Surakarta, Jualan Arem-Arem hingga Jilbab Dilakoni

1123
Joglosemar | Dwi Hastuti
CITA-CITA TINGGI—Nur Isnaini Wulan Agustin saat wisuda di kampus IAIN Surakarta, Sabtu (8/4). Dia meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,80.

Keterbatasan ekonomi tidak seharusnya jadi kendala seseorang dalam meraih prestasi akademis.

Hal itulah yang dibuktikan Nur Isnaini Wulan Agustin dengan menjadi wisudawan terbaik IAIN Surakarta periode April 2017.

Perawakannya mungil, namun tidak dengan semangatnya dalam menimba ilmu. Berasal dari keluarga ekonomi lemah tak lantas membuat Nur Isnaini Wulan Agustin patah arang dalam menempuh pendidikan.

Sejak bangku Taman Kanak-kanak (TK), Ulin, demikian ia akrab disapa, hanya belajar di sekolah yang biasa-biasa saja. Namun, cita-cita yang ia bangun sejak kecil tentang meraih pendidikan setinggi langit membuatnya selalu semangat, meski seringkali biaya sekolah menjadi kendala.

Usaha dan keberuntungan datang pada saat yang tepat. Dengan bekal prestasi selama di MTsN Karanganyar, Ulin berhasil mendapatkan beasiswa penuh ketika melanjutkan studi di MAN Karanganyar.

Seleksi ketat saat mendaftar beasiswa bidikmisi IAIN Surakarta pun ia lakoni demi bisa melanjutkan ke jenjang kuliah tanpa membebani kedua orangtua.

Ulin pun berhasil diterima di IAIN Surakarta dan mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).

Dan setelah menempuh pendidikan selama tujuh semester, atau tiga tahun enam bulan, Ulin sukses merampungkan pendidikannya dengan predikat sangat memuaskan dan IPK 3,80.

Hasil tersebut membawa dara yang masih berusia 21 tahun ini menjadi wisudawan terbaik pada Wisuda Sarjana dan Magister ke-34 IAIN Surakarta periode April 2017 yang digelar di Gedung Graha IAIN Surakarta, Sabtu (8/4/2017).

Putri pasangan Iding dan Ninik Purwanti ini punya cerita selama menempuh perkuliahan. Sang ayah yang berasal dari Ciamis Jawa Barat, dan ibunda yang asli Karanganyar, sama-sama berprofesi sebagai pedagang. Dari situ Ulin belajar untuk coba berjualan.

“Saya hanya bermimpi untuk dapat kuliah dengan tidak membebani orangtua, apapun caranya,” terang Ulin.

Semasa kuliah, anak kedua dari tiga bersaudara ini, sempat berjualan arem-arem yang dijajakan kepada para temannya yang tinggal di kos.

“Umumnya mereka belum sarapan saat ada jadwal kuliah pagi. Jadi arem-arem adalah solusi dan peluang bagi saya untuk menambah uang saku. Setelah bosan dengan arem-arem, jualan jilbab juga saya lakoni,” imbuhnya.

Setelah lulus, Ulin yang juga pernah jadi sutradara dalam mata kuliah drama ini sudah merencanakan untuk segera melanjutkan studi ke jenjang master.

“Setelah lulus dari IAIN, saya ingin melanjutkan studi saya ke Australia untuk mendapatkan MSc in TESOL lewat jalur beasiswa yang full funded alias gratis. Saya ingin menjadi pendidik yang bisa mendidik dengan baik keturunan saya kelak dan juga menjadi pendidik untuk anak bangsa,” pungkasnya.

Dwi Hastuti

BAGIKAN