Festival Jajanan Kampung Bangak, Trotoar Disulap jadi Lapak Kuliner

Festival Jajanan Kampung Bangak, Trotoar Disulap jadi Lapak Kuliner

60
Joglosemar | Ario Bhawono
JAJANAN KAMPUNG—Ratusan warga memadati festival kuliner jajanan kampung yang diselenggarakan KTBM Desa Bangak, Kecamatan Banyudono selama dua hari, Sabtu –Minggu (15-16/4).

BOYOLALI—Upaya menggenjot potensi pendapatan asli desa (PADes) juga terus dilakukan desa-desa di Boyolali.

Salah satunya Desa Bangak, Kecamatan Banyudono yang memanfaatkan trotoar bekas Pasar Bangak lama menjadi pusat kuliner jajanan kampung.

Festival kuliner jajanan kampung ini diselenggarakan selama dua hari, Sabtu-Minggu (15-16/4). Ternyata, langkah awal yang diprakarsai Karang Taruna Bakti Masyarakat (KTBM) RW 2 Bangak itu, mendapat sambutan meriah dari warga.

Sejak sore, puluhan stan berbagai jenis jajanan kampung, ludes diserbu ratusan warga yang datang.

“Ternyata sambutannya sangat baik, bahkan banyak yang langsung ludes dan harus memasak lagi untuk malamnya,” terang Suyatno Siswo Martono, tokoh pemuda setempat.

Baca Juga :  Jalan “Berlubang Raya” Mulai Diperbaiki

Menurut Suyatno, sesuai dengan tageline-nya yakni festival kuliner jajanan kampung, maka makanan yang disajikan hampir seluruhnya merupakan jajanan kampung seperti pecel gendar, timus, sate kere, klepon, tiwul, sawut, dan sebagainya.

Tak hanya sambutan positif warga, para peserta festival kuliner pun membludak. Setidaknya terdapat sekitar 45 peserta. Sebanyak 22 di antaranya tertampung di stan-stan yang berada di depan Balai Desa Bangak.

Menurut Suyatno, melalui kegiatan festival ini, pihaknya berupaya melestarikan jajanan kampung dan berupaya memperkenalkan tempat wisata kuliner Desa Bangak.

“Sekaligus lounching tempat wisata kuliner ini,” kata dia.

Baca Juga :  Tawarkan Lelang N-Max Rp 5 Juta, Ternyata Begini Ujungnya

Kades Bangak, Widayanto membenarkan rencana pengembangan wisata kuliner tersebut. Nantinya kuliner Bangak akan buka setiap hari dan sementara ini terdiri dari 22 stan. Melalui festival ini, menurut dia sekaligus menggali potensi pendapatan desa.

“Tapi untuk setahun pertama ini stan-stan itu kami gratiskan. Mungkin tahun berikutnya akan ada retribusi atau apa, akan menyesuaikan perkembangan ke depan,” jelas dia.

Termasuk di antaranya, jika keberadaan kuliner tersebut mendapatkan respon positif masyarakat, pihaknya baru akan membuat regulasi, atau dimungkinkan pengelolaan bersamaan dengan BUMDes, yang tahun 2017 ini akan dibentuk pemerintah Desa Bangak.

Ario Bhawono

BAGIKAN