JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Jumlah ABK di Sragen Capai 1.000 Anak

Jumlah ABK di Sragen Capai 1.000 Anak

137
BAGIKAN
Joglosemar | Wardoyo
SEMINAR ABK—Salah satu pembicara saat menyampaikan materi Seminar Nasional Strategi Pembelajaran Untuk Mengembangkan Potensi ABK di Aula Sukowati Setda, Sabtu (8/4/2017).

SRAGEN– Orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) utamanya yang mengalami hambatan intelektual diminta mulai mengubah mindset (pola pikir) untuk memaksakan anaknya sekolah di pendidikan reguler. Tak hanya itu, tenaga pendidik dan kepala sekolah (Kasek) sekolah dasar (SD) reguler yang sudah mendeklarasikan sebagai sekolah inklusi juga diminta lebih intensif dalam memberikan penanganan terhadap ABK.

Dua poin itu mengemuka dalam Seminar Nasional Strategi Pembelajaran Untuk Mengembangkan Potensi ABK di Aula Sukowati Setda, Sabtu (8/4/2017).

Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Sragen, Joko Sambodo, mengungkapkan salah satu tujuan seminar untuk menyadarkan tenaga pendidik utamanya di tingkat TK, SD dan PAUD akan pentingnya identifikasi, assesment dan pengembangan potensi terhadap ABK. Karena itu, seminar tersebut mengundang 250-an tenaga pendidik dan berbagai unsur dari dinas pendidikan.

Menurutnya penanganan dari awal itu sangat penting karena akan menentukan perkembangan potensi ABK. “Kalau sejak ditangani dengan baik, potensi mereka bisa tergali dan berprestasi. Buktinya anak-anak kita di SLBN bisa memecahkan tiga rekor MURI,” paparnya.

Jumlah ABK di Sragen saat ini mencapai 1.000 yang tersebar di SLBN, SLB Gemolong, Gondang, Bagaskara, Plupuh maupun Masaran. Wakasek Kesiswaan SLBN, Indarwa menekankan perlunya komitmen nyata dari Kasek SD reguler yang sudah berstatus inklusi untuk segera membenahi infrastruktur dan layanan terhadap siswa ABK.

Pasalnya, sejak dua tahun dideklarasikan, ia melihat belum ada gereget dari sekolah-sekolah untuk menyediakan layanan yang memadai untuk ABK. Pola pikir orang tua yang memiliki ABK juga diminta bisa diubah dengan tidak memaksakan anaknya sekolah di reguler apabila memang memiliki hambatan intelektual atau kekhususan. “Kalau memang sudah sekolah inklusi ya ayo bareng-bareng dibenahi semua. Kamar mandinya, pusat pembelajaran yang bisa diakses untuk anak disabilitas,” terangnya.

Sementara, Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati berharap ke depan penanganan untuk ABK bisa lebih komprehensif baik di SLBN maupun di sekolah reguler. Menurutnya, perlu program yang terpadu dan bisa diakses masyarakat agar ABK yang ada bisa tergali potensinya.

“Kalau mereka tertangani secara komprehensif, bisa seperti anak normal dan bahkan bisa berprestasi juga,” tegasnya. Wardoyo