Kartini dan Wajah Pendidikan Kita

Kartini dan Wajah Pendidikan Kita

78
Ilustrasi
Novy Eko Permono
Praktisi pendidikan di Wonogiri

Kartini adalah anomali, kiranya itu yang menjadi pengetahuan mengenai sosok Kartini yang kita pelajari di sekolah. Bahkan Ironisnya ia hampir dilupakan, kalaupun diingat hanya sebatas kebaya dan seremoni belaka. Tak jarang ia dipahami sebagai feminis yang dicurigai karena dianggap terkooptasi oleh ide-ide kolonial, seperti dalam tulisan Harsja W. Bachtiar berjudul Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita (1979) merupakan representasi suara-suara yang menggugat itu.

Namun di sisi lain, mengutip pendapatnya Karl Marx, bahwa “Kebenaran sebuah teori bukan terletak pada betul atau tidaknya teori tersebut dari aspek ilmu pengetahuan, akan tetapi terletak pada apakah teori itu menggerakkan orang untuk melakukan perubahan atau tidak”. Sebagai salah satu orang yang terkemuka di zamannya, melalui surat-suratnya ke orang Belanda (dalam bahasa Belanda), surat-surat Kartini telah mampu menjadi penggerak dan corong kondisi rakyat Hindia Belanda.

Baca Juga :  Budaya Baca untuk Antisipasi Hoax

Lahir dari keluarga priyayi (bangsawan Jawa) pada 21 April 1879, Kartini muda pernah mengenyam pendidikan dasar di Europesche Lagere School. Di sanalah ia belajar bahasa Belanda sehingga ia memiliki modal pengetahuan yang cukup untuk berhubungan dengan dunia modern kala itu. Kehidupan masyarakat Jawa saat itu menempatkan perempuan dalam posisi yang inferior bila dibandingkan dengan pria. Tidak mengherankan jika dalam budaya Jawa peranan perempuan hanya berkisar pada tiga kawasan yaitu sumur (mencuci dan bersih-bersih), dapur (memasak) dan kasur (melayani suami). Atau dalam nomenklatur lain disebut sebagai macak, masak dan manak.

Bergelar sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Perdebatan soal Kartini terus dihembuskan, termasuk soal hari peringatannya yang dinilai diskriminatif bagi pejuang wanita yang lain. Lalu kita membanding-bandingkan besarnya perjuangan itu dari ukuran heroisme berdarah. Apabila kita hanya menyorotnya berdasarkan dobrakan yang ditimbulkan, kita terjebak pada kulit pemahaman.

Baca Juga :  Othok-othok, Vuvuzela dan Pro-Kontra

1
2
3
BAGIKAN