Ini yang Membuat Petani Klaten Takut Tanam Tembakau

Ini yang Membuat Petani Klaten Takut Tanam Tembakau

167
Joglosemar | Dani Prima
GAGAL PANEN – Seorang petani di Desa Borangan Kecamatan Manisrenggo mencabut beberapa tanaman tembakaunya, Minggu (16/10/2016).

KLATEN—Petani belum berani menanam tembakau dalam waktu dekat ini. Mereka masih dihantui dampak cuaca buruk yang membuat sebagian besar bibit tembakau mati. Selain itu, juga karena harga tembakau cenderung fluktuatif.

“Kami tanam tembakau ibarat bermain tebak-tebakan. Kalau tahun lalu harga tembakau anjlok, maka tahun ini belum tentu. Bisa-bisa harganya anjlok lagi,” Winarno (46) petani asal Desa Padangan, Kecamatan Trucuk, Selasa (18/4/2017).

Menurut Winarno, kualitas tembakau produksi tahun lalu turun karena cuaca musim kemarau basah. Akibatnya, harga jual tembakau ke pabrik rokok anjlok.

Baca Juga :  Polisi Klaten Bekuk Kawanan Bajing Loncat Solo-Jogja

“Tahun lalu kalau tembakau kualitas terbaik dibeli dengan harga hanya Rp 30.000-Rp 40.000 saja. Padahal tahun 2015 lalu bisa sampai Rp 50.000- Rp 60.000. Jadi banyak petani tembakau yang merugi, hingga utang ke bank belum bisa dilunasi,” ungkapnya.

Menurutnya,jika melihat harga tembakau yang terus menerus tidak ada belum ada kepastian mengenai tata niaga tembakau juga menjadi momok tersendiri. “Saya yakin petani tembakau tahun 2017 ini akan semakin sedikit,” ujarnya.

Baca Juga :  Ini Asal Uang Suap dan Gratifikasi Sri Hartini yang Tembus Rp 13 Miliar

Sementara itu, data dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Klaten pada tahun lalu potensi lahan tembakau di Klaten seluas 3.000 hektare.

Lahan itu tersebar di Kecamatan Trucuk, Jogonalan, Prambanan, serta Manisrenggo. Namun diperkirakan menurun sekitar 50 persen atau sekitar 1.500 hektare.

1
2
BAGIKAN