Produksi Bawang Putih Dalam Negeri Sekarat

Produksi Bawang Putih Dalam Negeri Sekarat

91
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
HARGA NAIK—Pedagang mengupas bawang putih di Pasar Legi, Surakarta, Rabu (19/4/2017). Bawang putih mengalami kenaikan harga yang lumayan tinggi karena 90 persen ketersediaan bawang putih masih diimpor.

SOLO – Harga bawang putih di sejumlah pasar tradisional mengalami kenaikan dalam sepekan. Hal ini diduga karena produksi bawang putih di tanah air terus menurun.

Salah satu pedagang pasar gede Surakarta, Endarti mengakui sudah satu pekan ini harga bawang putih naik. Di pasaran harganya capai Rp 50.000 per Kg, dari sebelumnya Rp 30.000. Naiknya harga bawang putih ini dikarenakan adanya pasokan yang berkurang. “Dari ambilnya sudah mahal, jadi sini jual mahal juga,” ujarnya. Namun meski harga naik, permintaan tetap stabil.

Baca Juga :  Katering Al-Hikmah, Sediakan Menu Tradisional dan Halal

Senada, pedagang lainnya Daryanti (58)  mengakui kenaikan harga bawang tak dapat diprediksi. “Harga kali ini sangat menonjol,  sekilo bisa Rp 50.000 lebih, padahal biasanya  hanya Rp 30.000 an,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Perwakilan Cabang (KPc) Bank Indonesia (BI) Solo, Bandoe Widiarto mengatakan biaya produksi yang tidak sebanding dengan produksi akhirnya membuat bawang putih impor didatangkan guna mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia.  kondisi ini berdampak pada kenaikan penjualan di pasar tradisional.

Baca Juga :  Permintaan Tinggi,Harga Ayam Ras Melonjak

“Bawang putih dalam negeri sejauh ini memang belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Dikarenakan banyak petani yang mengaku biaya produksi tidak sebanding dengan hasil produksi yang dicapai. Saat ini memang bawang putih masih impor bahkan mencapai 90 persen,” ujar Bandoe saat ditemui wartawan di kantor BI Surakarta, Rabu (19/4/2017).

1
2
BAGIKAN