Soal Mediasi, Polisi Bersenjata Lengkap dan Dewan Adat Tak Bisa Masuk Keraton

Soal Mediasi, Polisi Bersenjata Lengkap dan Dewan Adat Tak Bisa Masuk Keraton

149
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
DILARANG MASUK–Gray Koes Moertiyah atau Gusti Moeng bersama rombongan dalam mobil tidak boleh masuk ke keraton oleh petugas kepolisian saat menjelang petang hari, Sabtu (15/4).

SOLO-Sejumlah petinggi Keraton Kasunanan Surakarta yang tergabung dalam Dewan Adat tak boleh masuk ke keraton, Sabtu (15/4/2017) petang. Mereka dicegat oleh petugas dari kepolisian.

Para petugas ini berjaga setelah Jajaran Polda Jateng dan Polresta Surakarta melakukan upaya paksa penggeledahan terkait dugaan pemalsuan surat Keraton Surakarta. Polisi juga membawa para abdi dalem keluar dari keraton.

Sebelumnya, mereka diajak melakukan mediasi terlebih dahulu dengan kubu Paku Buwana XIII di sebuah restoran. Sekitar pukul 13.00 siang, keluarlah mobil yang dikemudikan oleh KP Eddy Wirabhumi.

Di dalamnya terdapat KGPH Puger, Gray Koes Moertiyah dan seorang kerabat keraton. Mobil tersebut diikuti oleh sebuah mobil yang berisikan kerabat serta abdi dalem.

Baca Juga :  Anggun dan Elegan Berlebaran dengan Batik

Kapolresta Solo, AKBP Ribut Hari Wibowo mengaku rombongan KGPH Puger tersebut menuju ke sebuah hotel berbintang di Solo untuk dilakukan mediasi.

Hanya saja, pihaknya enggan menjelaskan secara rinci mediasi seperti apa yang akan berlangsung antara pihak pelapor dan terlapor. “Saya akan mendampingi untuk mediasinya,” ungkapnya singkat lalu masuk ke mobil.

Menjelang Magrib, rombongan Gray Koes Moertiyah atau yang kerap disapa Gusti Moeng terlihat kembali ke keraton.

Tapi, rombongan tersebut dicegat oleh petugas tak boleh masuk. Tanpa banyak kata, akhirnya mobil tersebut putar balik dari keraton.

KP Eddy Wirabhumi mengatakan bahwa pihaknya belum bisa masuk ke keraton. “Kita nggak akan melawan kekuasaan (pemerintah, red). Siapa yang berani,” ujarnya.

Baca Juga :  Pengemis Musiman Banjiri Solo, Pendapatan? Gaji PNS Kalah Jauh, Ini Faktanya

Sementara, terkait hasil mediasi, Edy menambahkan kedua pihak sudah bersepakat. “Acara tanggal 22 April (jumenengan) tetap berlangsung. Setelah itu, baru dibicarakan hal-hal lain,” jelasnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan puluhan polisi bersenjata lengkap, kendaraan taktis barracuda serta sejumlah mobil polisi terparkir di area keraton.

Sejumlah kerabat dan abdi dalem yang rencananya memasuki keraton terpaksa harus kembali lantaran dilarang oleh pihak kepolisian

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Djarod Padakova  mengungkapkan penggeledahan dan pencarian barang bukti tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dari laporan tertanggal 10 April lalu dari pihak Sinuhun PB XIII yang menyebutkan ada dugaan pemalsuan dokumen kekancingan (pemberian gelar, red).

Murniati

BAGIKAN