Tabungan di Rekening Dikuras Secara Misterius. PNS di Sragen Laporkan Pimpinan Bank...

Tabungan di Rekening Dikuras Secara Misterius. PNS di Sragen Laporkan Pimpinan Bank Jateng ke Polisi

1303
Ine Marliah (kanan) didampingi suaminya, Ichwan Yulianto saat menunjukkan surat laporan ke Polres terkait pembobolan misterius rekening tabungannya di Bank Jateng Sragen, Senin (17/4/2017). Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN– Seorang nasabah Bank Jateng Sragen sekaligus PNS di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sragen, Ine Marliah (45) melaporkan dua pimpinan Bank Jateng ke Polres Sragen, Senin (17/4/2017). Gara-garanya, PNS yang menjabat sebagai Kasie Rehabilitasi Tuna Sosial itu mendapati tabungan gaji miliknya sebesar Rp 11.466.000,- hilang dibobol secara misterius dari rekeningnya.

Sementara pihak bank yang mengetahui rekeningnya diduga dibobol pelaku penggandaan ATM asal Jatim, menolak bertanggungjawab dan mengganti tabungannya yang raib. Dua pimpinan bank daerah terbesar di Jateng yang dilaporkan itu masing-masing Pimpinan Bank Jateng Sragen, Bambang Heru Santoso dan wakilnya, Retno Tri Wulandari.

PNS asal Kampung Widoro RT 41/12, Sragen itu kemarin melapor dengan didampingi suaminya, Ichwan Yulianto dan beberapa rekan PNS di Dinas Sosial Sragen. Hilangnya tabungan itu diketahuinya tanggal 14 Maret silam ketika ia hendak mengambil uang via ATM di Bank Jateng Sragen untuk kepentingan membayar biaya pelunasan gajinya.

Saat itu ia kaget karena transaksi penarikan beberapa kali ditolak. Setelah dicek ia makin kaget karena saldonya ternyata tinggal Rp 142.056,-. Padahal, ia melakukan transaksi terakhir kali tanggal 10 Maret dan saldo terakhir masih tercatat Rp 11.588.000,-.

“Saya terakhir menarik via ATM tanggal 10 Maret di ATM Pom Bensin Pasar Kliwon Solo sebanyak Rp 500.000. Saat itu saldo di rekening masih sisa Rp 11.588.000,-. Tapi waktu saya mau narik lagi tanggal 14 Maret, sudah tinggal RP 142.056,-. Saya langsung lapor ke kantor Bank Jateng dan mengkonfirmasi kenapa uang di tabungan saya kok bisa hilang, ” paparnya seusai melapor di Mapolres.

Baca Juga :  LP Sragen Gempar, Pengedar Sabu Anak Buah Kanit AGS, Ditemukan Gantung Diri

Ia juga menyayangkan sikap pihak Bank Jateng yang menolak bertanggungjawab atas hilangnya uang yang sudah jelas dibobol oleh pelaku kejahatan. Padahal, saat dikonfirmasi, pihak bank sempat menunjukkan rekaman CCTV bahwa uangnya dikuras oleh dua orang remaja di tiga ATM berbeda di Jatim.

Menurutnya, langkah melapor polres terpaksa dilakukan agar ke depan pihak Bank Jateng lebih profesional mengingat kasus itu tidak hanya merugikan dirinya tapi juga berdampak pada nasib PNS se-Sragen yang semua gajinya lewat Bank Jateng.

“Bukan soal nilai uangnya, tapi ini akan mempengaruhi teman-teman PNS yang lain yang gajinya juga di Bank Jateng. Bahwa ternyata uang gaji yang kita simpan, kita percayakan dan amanahkan di Bank Jateng ternyata ketika digandakan dan ditarik orang lain otomatis kita tidak bisa lagi memiliki uang itu, ” tuturnya.

Baca Juga :  Diduga Berisi Bom, Tas Ransel Misterius Gegerkan Pengunjung RSUD Sragen

Kapolres Sragen, AKBP Cahyo Widiarso mengatakan laporan tersebut akan didalami dan dipelajari terlebih dahulu. Pihaknya memastikan semua laporan akan diterima dan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur.

Kepala Dinas Sosial Sragen, Supriyatno kepada wartawan membenarkan adanya kasus pembobolan misterius yang dialami anak buahnya itu. Ia juga mendukung laporan itu agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari.

Terpisah, Wakil Pimpinan Bank Jateng Sragen, Retno Tri Wulandari saat dikonfirmasi membenarkan adanya pengaduan kasus yang dialami Ine. Namun ia menyampaikan bahwa pimpinannya, Bambang Heru Santoso tidak bisa memberikan keterangan karena tidak sedang dikantor.

Ia kemudian menjelaskan bahwa proses penarikan uang di ATM yang bersangkutan sudah berjalan dengan wajar dan ada rekaman CCTV. Ia juga mengatakan bahwa aduan sudah ditanggapi dan dijawab sesuai prosedur perbankan. Mengenai nomor ATM yang digandakan pelaku, menurutnya hal itu memang memungkinkan.

Akan tetapi, soal ATM dan nomor PIN, sepenuhnya hal itu menjadi hak prioritas nasabah. Begitu pula soal tuntutan pengembalian uang, ia mengaku belum bisa memastikan. Meski demikian, pihaknya siap apabila dimintai keterangan dan memberi data apabila dipanggil kepolisian.

“Terus terang kasus seperti ini baru pertama kali terjadi,” katanya. Wardoyo

BAGIKAN