JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Terseret Arus Saat Mandi, Jasad Kakek 80 Tahun Langsung Disambut Histeris

Terseret Arus Saat Mandi, Jasad Kakek 80 Tahun Langsung Disambut Histeris

759
BAGIKAN
Tim identifikasi Polres Sragen dan PMI saat melakukan pengecekan terhadap jasad kakek asal Wonotolo, Gondang yang tewas terseret arus Kali Sumbon, Selasa (11/4/2017) malam. Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN- Nasib tragis menimpa seorang kakek bernama Marto Dikromo, asal Dukuh Keyen RT 13, Desa Wonotolo, Gondang. Kakek miskin berusia 80 tahun itu ditemukan tak bernyawa saat mandi di Kali Sumbon, di dukuh setempat, Selasa (11/4/2017) malam.

Korban diduga hanyut karena tenggelam terseret ganasnya arus Kali Sumbon. Jasad korban ditemukan sekitar tiga jam berselang setelah terlacak berkat temuan pakaiannya yang tertinggal di tepi sungai dekat lokasi kejadian.

Informasi yang dihimpun di lapangan, peristiwa tragis itu diungkapkan kali pertama korban kali oleh anaknya, Sarmanto (57). Menurut keterangannya, sore itu sekitar pukul 16.30 WIB, korban diketahui pamit untuk mandi di Kali Sumbon yang berjarak tak jauh dari rumah.

Namun, ia mulai cemas ketika hingga petang, korban tak kunjung pulang. Was-was terjadi apa-apa, ia berinisiatif mencari korban ke arah sungai.

Kecemasannya kian memuncak ketika hanya mendapati pakaian korban tergeletak di tepian. Ia pun langsung meminta pertolongan warga dan aparat untuk melakukan pencarian.

Tak lama berselang, tim gabungan Polsek, BPBD, PMI dan sejumlah elemen langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan penyisiran. Setelah tiga jam berjuang, jasad korban akhirnya ditemukan dalam kondisi sudah tewas. Temuan jasad kakek malang itu langsung disambut histeris dari kerabat korban.

“Jasad korban ditemukan pukul 19.30 WIB dalam kondisi sudah meninggal. Lokasi jasad jarak 200 meter dari penemuan pakaian, ” papar Kepala Markas PMI Sragen, Dwi Purwanto didampingi Ketua Tim Sukarelawan PMI, Endro.

Kapolres Sragen, AKBP Cahyo Widiarso melalui Kapolsek Gondang, AKP Yohanes Trisnanto menyampaikan dari hasil olah TKP dan visum, tidak ditenukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan di tubuh korban.

“Karena pihak keluarga sudah menerima sebagai musibah, jasad korban langsung kami serahkan ke kerabat untuk dimakamkan, ” jelasnya. (#Wardoyo)