JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Transportasi Keren Perlakuan Lama, AC Dimatikan dan Pintu Dibuka, Apa Sebabnya?

Transportasi Keren Perlakuan Lama, AC Dimatikan dan Pintu Dibuka, Apa Sebabnya?

259
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
PELUNCURAN FEEDER BST – Sejumlah angkutan feeder Batik Solo Trans terparkir di halaman kantor Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Selasa (21/3). 

SOLO — Operasional Feeder BST tidak sesuai Standart Operating Procedure (SOP). Pengemudi memilih membuka pintu armada dengan berbagai alasan. Mulai dari menuruti permintaan penumpang dan hemat Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga memudahkan penumpang.

Feeder BST baru saja diluncurkan 6 April lalu dengan masa evaluasi selama satu bulan. Berbagai masalah muncul pada pekan pertama pengoperasional feeder BST, seperti pendingin feeder tidak berfungsi maksimal, dan borosnya operasional armada.

Salah seorang pengemudi Feeder BST, Wijoyo mengungkapkan jika beberapa penumpang menolak menggunakan AC. Menurutnya sebagian penumpang merasa tidak nyaman dengan AC dan khawatir malah masuk angin. Selain itu, ketika AC dinyalakan maka membuat BBM menjadi semakin boros.

“Kita selama ini lebih sering tombok, paling narik satu tangkep (PP) dapetnya Rp 20.000,” ujar Salah, Wijoyo kepada Joglosemar (13/4).

Setiap harinya para pengemudi dikenai kewajiban setor ke koperasi sebesar Rp 35.000. Padahal, rata- rata sehari hanya mendapat kesempatan trayek mengemudi dua kali PP. Di sisi lain, jumlah armada yang mangkal juga semakin banyak dari sebelumnya. Saat ini ada 12 armada berhenti di Pasar Klewer.

“Dulunya sebelum ada sistem yang baru di sini (Pasar Klewer) ada 9 armada, sekarang mau nggak mau ya harus bagi-bagi dengan pengemudi yang lain,” ungkap Sriyanto.

Menurut Sriyanto pihaknya sempat ditegur oleh Dinas Perhubungan (Dishub) kota Surakarta terkait pelanggaran SOP. Khususnya tentang pintu yang dibuka, namun akhirnya Dishub pun memaklumi dengan kondisi lapangan yang kurang mendukung.

Selain kurang berfungsinya AC, kondisi pintu yang tidak bisa membuka secara otomatis menyulitkan dia dan penumpang.

“Pintunya agak seret kalau dibuka, kan kasihan kalau penumpang harus membuka sendiri, sementara kalau saya yang buka kan kurang praktis, harus naik-turun,” imbuhnya.

Sementara itu, pengemudi Feeder BST lainnya, Sutopo menambahkan, pintu armada terpaksa dibuka karena masih  belum banyak calon penumpang yang bingung. Calon penumpang beranggapan kalau pintu ditutup berarti armada itu tidak beroperasi.

Sementara itu terkait semakin menurunnya pendapatan pengemudi salah satunya karena adanya perubahan nama dari jalur menjadi koridor.

Penumpang masih bingung dengan pergantian istilah tersebut. Para pengemudi menganggap ini sebagai sesuatu yang wajar dalam sebuah perubahan sistem.

“Yang jelas saat ini kami sedang rugi karena pendapatan memang belum bisa terpenuhi  buat keperluan setor dan membeli bensin,” tandas Sutopo.

Kukuh Subekti

BAGIKAN