JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen 5 bulan di-PHK, 7 Kali di-PHP, Pesangon 43 Buruh Sulismatex Tunggu Penjualan...

5 bulan di-PHK, 7 Kali di-PHP, Pesangon 43 Buruh Sulismatex Tunggu Penjualan Mesin

157
Joglosemar | Wardoyo
TUNTUT PESANGON–Puluhan mantan karyawan pabrik PT Sulistyawati Kusumatex (Sulismatex) Purwosuman, Sidoharjo, Sragen kembali menagih uang pesangon yang tak kunjung diberikan, Jumat (12/5).

SRAGEN—Harapan 43 karyawan PT Sulistyawati Kusumatex (Sulismatex), Purwosuman, Kecamatan Sidoharjo, korban PHK untuk mendapatkan hak pesangon secara utuh kembali harus tertunda.

Pasalnya, pihak perusahaan untuk ketujuh kalinya belum bisa memenuhi pembayaran pesangon secara penuh seperti yang dijanjikan.

Meski sudah menyanggupi bakal membayar lunas pesangon pada Jumat (12/5/2017) kemarin, namun pihak perusahaan baru sanggup membayar 65 persen pesangon. Sisanya kembali dijanjikan bakal dibayarkan dua pekan ke depan menunggu hasil penjualan mesin pabrik.

Fakta itu terungkap saat puluhan mantan karyawan pabrik tekstil itu menggeruduk bekas perusahaan mereka kemarin. Dalam aksinya mereka menuntut pembayaran pesangon yang sudah tujuh kali tertunda sejak pabrik dinyatakan bangkrut pada Desember 2016 silam.

Setelah didesak, pihak manajemen akhirnya mau mencairkan uang pesangon mereka. Akan tetapi yang dibayarkan baru Rp 6,9 juta per buruh dari jatah pesangon sebesar Rp 10,46 juta yang seharusnya diterima.

“Tadi (kemarin) sempat menunggu agak lama baru dibayarkan.  Itu pun masih kurang dan kekurangannya dijanjikan akan dibayarkan tanggal 26 Mei mendatang. Katanya menunggu hasil penjualan mesin dulu,” ujar SN, salah satu perwakilan buruh kepada Joglosemar.

Meski kecewa, menurutnya, ia dan rekan-rekannya tak bisa berbuat banyak selain hanya mengiyakan janji perusahaan.

Janji pelunasan kekurangan pesangon kemarin dituangkan dalam surat pernyataan yang dibubuhi meterai dan ditandatangani Dirut PT Sulismatex, Suhartanto dengan mencantumkan tujuh buruh sebagai saksi.

Mewakili rekan-rekannya, SN menuturkan, sebenarnya buruh sedikit kecewa karena pesangon belum bisa diterima utuh. Ia pun berharap perusahaan tak lagi mem-PHP karyawan dan melunasi kekurangan sesuai dengan pernyataannya.

Ia juga menyayangkan sikap Pemkab maupun dinas terkait yang terkesan kurang gereget memperjuangkan hak buruh. Pasalnya, selama hampir lima bulan di-PHK, buruh acapkali harus pasrah ketika perusahaan hanya menjawab dengan janji-janji.

“Bayangkan, kami sudah berjuang sejak awal Desember dirumahkan, katanya pesangon dijanjikan seminggu dibayarkan. Setelah ditagih, dijanjikan akhir Desember, lalu awal Februari, molor lagi Maret, sampai April, ditunda Mei. Ini juga masih kurang dan dijanjikan dua minggu lagi. Lima bulan di-PHK, tujuh kali di-PHP,” jelasnya.

Ia menegaskan akan terus menuntut hak kekurangan pesangon itu. Meski jumlahnya tak seberapa,  pesangon itu sangat berarti bagi mantan buruh yang kini sebagian masih menganggur.

Personalia PT Sulismatex,  FX Sugiyanto mengatakan pembayaran pesangon 43 buruh yang di-PHK kemarin memang belum bisa penuh. Masing-masing buruh baru bisa dibayarkan Rp 6,9 juta dari seharusnya Rp 10,46 juta.

Namun sesuai surat kesepakatan yang dibuat Dirut, kekurangan akan dibayarkan paling lambat dua pekan ke depan. Menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan lantaran hingga kini uang penjualan mesin pabrik juga baru dibayar uang mukanya.

“Dari pembeli mesin, baru membayar DP-nya sebesar Rp 300 juta dan tadi sudah dipakai untuk membayarkan pesangon.  Nanti kekurangannya menunggu pembayaran lagi. Tapi sudah disanggupi tanggal 26 Mei,” jelasnya.

Ia berharap para buruh lebih bersabar karena perusahaan juga sudah mengupayakan. Di bagian akhir, Sugiyanto juga berharap situasi ekonomi segera membaik sehingga masih ada kemungkinan pabrik bisa kembali bangkit dari keterpurukan. “Mohon doanya saja Mas,” tukasnya.

Ditambahkan, dari 48 karyawan tetap, lima orang yakni satpam dan personalia masih dipertahankan. Soal peluang apakah masih ada harapan beroperasi lagi, Sugiyanto mengaku belum bisa berkomentar.

Terpisah, hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Tenaga Kerja belum bisa dikonfirmasi. Namun sebelumnya, Plt Kepala Disnaker Sragen, Endang Handayani mengaku dinas sudah memediasi persoalan itu dan berharap perusahaan segera membayarkan pesangon para buruh.

Wardoyo

BAGIKAN