JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Ada Indikasi Praktik Prostitusi, Pemkot Akan Atur Jam Buka Salon di Solo

Ada Indikasi Praktik Prostitusi, Pemkot Akan Atur Jam Buka Salon di Solo

71
BAGIKAN
ilustrasi penggerebekan salon di Solo. Foto : Insan Dipo Ferdias

SOLO – Lantaran ada indikasi adanya praktik prostitusi di salon kecantikan, Pemkot bakal membatasi jam operasionalnya mulai 04.00 pagi hingga 22.00 malam.

Keputusan ini diambil dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Usaha Pariwisata, Senin (8/5/2017) siang.

Eksekutif dan legislatif sepakat memberikan proteksi terhadap usaha yang bergerak di bidang kesehatan dan kecantikan itu dari bisnis prostitusi. Perlu diketahui, jam operasional itu juga diberlakukan untuk rias pengantin.

Anggota Panitia Khusus (Pansus) tentang Raperda Usaha Pariwisata DPRD Surakarta, Ginda Ferachtriawan mengungkapkan selama ini ada dugaan praktik prostitusi di salon-salon dan pusat kecantikan.

Meskipun masih dalam batasan dugaan, namun tidak ada salahnya untuk melakukan antisipasi dan pencegahan.

“Pembatasan jam operasional salon kecantikan dan rias pengantin sebenarnya untuk melindungi usaha dari kegiatan menyimpang itu,” katanya usai rapat Pansus.

Dia menekankan salon-salon dan rias pengantin tidak perlu khawatir dengan pembatasan jam operasional. Pasalnya, itu baru sebatas draf dan masih umum. Kalau pun ada pengkhususan, maka nantinya akan diatur dalam Peraturan Walikota (Perwali).

Lantaran masuk dalam usaha pariwisata, maka salon kecantikan dan rias pengantin harus mengantongi Tanda Dagang Usaha Pariwisata (TDUP).

Hanya saja, kewajiban terhadap izin ini tidak diberlakukan pada salon kecantikan dan rias pengantin yang skalanya masih kecil.

Ketua Pansus Raperda tentang Usaha Pariwisata DPRD Surakarta, Kristianto membenarkan pembatasan jam usaha sebagai bentuk antisipasi dan pengawasan terhadap salon kecantikan di Kota Bengawan.

#Murniati