JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Aksi Konvoi Brutal di Klaten, Polres Klaten Temukan Fakta Mengejutkan

Aksi Konvoi Brutal di Klaten, Polres Klaten Temukan Fakta Mengejutkan

7802
BAGIKAN
Salah satu korban pengeroyokan, Tri Purnama Adi didampingi orang tuanya saat melapor ke Mapolres Klaten, Kamis (4/5/2017). Foto : Dani Prima

KLATEN—Aparat Kepolisian belum menemukan bukti kuat untuk menjerat calon tersangka lain dalam kasus konvoi anarki lulusan beberapa hari lalu.

Meski sempat menahan 15 orang yang diduga terlibat, polisi baru satu orang pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara, 14 orang lainnya hanya dikenakan wajib lapor. Kapolres Klaten AKBP Muhammad Darwis juga mengungkapkan, tidak semua orang yang ditangkap oleh pihaknya itu berstatus pelajar.

Bahkan dari identifikasi pertugas, terdapat fakta mengejutkan dimana pelajar yang berkonvoi tidak semuanya merupakan siswa kelas XII.

Beberapa diketahui masih duduk di kelas di bawahnya, bahkan ada juga yang merupakan siswa SMP. “Setidaknya ada enam orang termasuk tersangka RS yang statusnya sudah bukan pelajar lagi,” kata Kapolres, Jumat (5/5/2017).

Menurut Kapolres, beberapa orang yang tidak berstatus pelajar ini menyusup ikut konvoi kelulusan yang berujung tindakan brutal tersebut.

Peserta konvoi yang diketahui bukan pelajar itu sebagian berasal dari Sleman, dan sebagian lainnya dari Klaten. Alasan yang mereka sampaikan saat diperiksa rata-rata karena diajak rekannya yang baru lulus.

“Bahkan beberapa diketahui ikut konvoi karena mau mabuk-mabukan (minum miras) sambil konvoi,” ungkapnya.

Kasatreskrim, Polres Klaten AKP  David Widya Dwi Hapsoro menambahkan, baru RS (23) warga Desa Gondang, Kecamatan Jogonalan yang ditetapkan sebagai tersangka.

“Yang lainnya wajib lapor sampai ditemukan indikasi pidananya. Siapa tahu ada bukti permulaan yang cukup untuk mengarah kepada tersangka,” katanya.

Menurut AKP Davis, 14 orang wajib lapor itu sebagian besar pelajar SMK/SMA dari Yogjakarta dan Klaten. Salah satu orang  yang diwajibkan melapor itu adalah seorang remaja dari Desa Mulyodadi  Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.

Ditemui di ruang tunggu kantor Satreskrim Polres Klaten pada Kamis sore (4/5/2017) lalu, pemudi berusia sekitar 20 tahun itu ikut-ikutan konvoi meski sudah tidak sekolah.

“Saya sudah tidak sekolah, cuma lulus SMP kok,” kata remaja yang tidak ingin namanya dikorbankan itu.

Sedangkan, wajib lapor lainnya, Dika, siswa kelas XII SMK Nasional Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman mengaku baru bergabung dengan konvoi besar itu di Jalan Raya Solo-Jogja wilayah Kecamatan Jogonalan, Klaten.

“Saya niatnya mau ke sekolah dulu. Tapi sudah ketinggalan, teman-teman sudah berangkat (konvoi),” kata warga Kecamatan Manisrenggo, Klaten, itu.

Berdalih ikut konvoi di barisan paling belakang, Dika mengaku sendirian alias tidak dalam satu rombongan dengan teman-teman satu sekolahnya.

“Saya bawa motor Yamaha RX King sendiri, tidak berboncengan. Saya juga tidak bawa (senjata) apapun,” kata Dika.

Seperti diketahui, konvoi seratusan pelajar yang melintas di Klaten, Selasa (2/5/2017) lalu berbuat onar. Gerombolan pelajar itu tidak segan melakukan perusakan dan penganiayaan terhadap belasan pelajar lain yang mereka temui di jalan.

Dani Prima