JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi, Ini Tanggapan Akper YAPPI Sragen

Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi, Ini Tanggapan Akper YAPPI Sragen

167
BAGIKAN
ilustrasi

SRAGEN—Tingginya angka kematian ibu dan bayi (AKI) di Kabupaten Sragen, terus memantik keprihatinan.

Tenaga medis utamanya perawat pun diingatkan lebih menguasai teknik penanganan kegawatdaruratan guna menekan AKI.

Hal itu terungkap dalam acara pelatihan penanganan kegawatdaruratan atau BTCLS yang diprakarsai Akademi Keperawatan YAPPI Sragen, Kamis (11/5/2017).

Direktur Akper YAPPI Sragen, Suharti mengungkapkan, pelatihan diikuti sekitar 90 orang dengan menggandeng Tim 119 Jakarta.

Menurutnya, pelatihan digelar sebagai wujud institusinya dalam mendorong peningkatan keterampilan perawat dalam bidang kegawatdaruratan.

Selain sudah diamanatkan dalam UU Kesehatan dan Peraturan Menkes soal perlunya peningkatan keterampilan perawat, penanganan dalam situasi kegawatdaruratan menjadi krusial dan sangat menentukan.

“Jadi dengan adanya pelatihan seperti ini, perawat diharapkan bisa lebih terampil dan menguasai skill terutama dalam menghadapi kedaruratan. Dengan memahami penanganan kegawatdarutan, juga mengurangi risiko fatal dan tindakan irasional yang bisa berdampak hukum,” ungkap Suharti.

Ia menguraikan, perawat sebagai garda terdepan diharapkan bisa berkontribusi positif menekan sejumlah persoalan kesehatan di Sragen. Seperti AKI yang saat ini masih tinggi, juga angka korban kecelakaan, penyakit menular, dan kasus kekurangan gizi.

Pelatihan itu juga sekaligus sebagai wujud dukungan dan kontribusi Akper YAPPI terhadap pengentasan problem kesehatan di Bumi Sukowati.

“Dengan menguasai kegawatdaruratan,  perawat akan tahu bagaimana harus bertindak apabila ada ibu hamil dalam kondisi gawat darurat tanpa risiko kecatatan dan kematian,” urainya.

Selain AKI,  keterampilan kegawatdaruratan juga penting untuk menekan angka korban kecelakaan Sragen yang masih tinggi. Pelatihan itu akan digelar selama empat hari.

Wardoyo