JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Berdakwah Lewat Dongeng dan Sulap, Pendekar Yo Pernah Dituding Gunakan Sihir

Berdakwah Lewat Dongeng dan Sulap, Pendekar Yo Pernah Dituding Gunakan Sihir

51
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
PERTUNJUKAN SULAP- Pertunjukan Sulap diacara Halal Bi Halal di Lor In Hotel Solo, Minggu (31/7).

Dakwah merupakan tugas penting dalam menyebarkan ajaran Islam. Beragam metode dan cara dikembangkan agar dakwah berjalan efektif dan efisien. Namun masih jarang dai yang mengambil ladang dakwah di kalangan anak-anak.

Siapa sangka Kota Solo memiliki sejumlah dai dengan berbagai inovasi di tangan mereka penyampaian tentang ajaran Islam mudah dipahami dan menyenangkan bagi anak-anak.

Setidaknya, itulah kesan yang tertinggal dari metode dakwah yang dilakukan sosok pendongeng Kak Bony dan Pendekar Yo yang menjadikan sulap sebagai media dakwah.

Pemilik nama Bony Eli Saputro ini  telah lama menjadi pengajar Taman Pendidikan Quran (TPQ). Aktivitas dakwah di kalangan anak-anak ini dilakoninya sejak lulus dari bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Hal ini dilakoninya lantaran melihat kurangnya pendidikan agama bagi anak-anak di lingkungannya. Padahal anak merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan estafet dakwah umat Islam.

Tahun 2006, saat menjadi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ia menyadari bahwa guru harus memiliki “senjata”  untuk mengambil perhatian anak.

Ia pun menemukan dongeng sebagai media yang tepat, bukan hanya untuk menarik perhatian anak namun juga efektif untuk menyampaikan pesan dakwah.

“Ternyata anak lebih tertarik disampaikan pelajaran dengan dongeng. Mereka cepat memperhatikan, yang lari-larian dan main sendiri kembali fokus pada pelajaran,” katanya.

Bony mengaku belajar mendongeng secara autodidak. Awalnya, ia belajar karakter suara hewan hingga berbagai suara tokoh kartun. Bony juga tekun membaca buku dongeng dan lambat lain mencoba memetik satu dua  hadis sebagai materi dakwahnya.

“Saya belajar secara autodidak, awalnya saya belajar karakter suara saat angon kambing dan dari film kartun itu. Terus saya baca buku-buku dongeng, akhirnya berkembang dengan materi akhlak dan perilaku anak Islam,” imbuh warga Soditan, Ngadirejo, Kartasura Sukoharjo itu

Guru TK Al Al Firdaus Surakarta ini  semakin mengembangkan teknik mendongengnya. Bahkan sandal, kaus kaki dan serbet dapat menjadi alat peraga saat mendongeng.

“Bukan hanya mengandalkan suara, alat peraga penting untuk digunakan. Saya biasanya pake  bahan yang ada dan mudah dikenal anak-anak. Sandal bekas, baju bekas, kaus kaki saya buat alat peraga,” ujar alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta itu.

Ketekunan ini mengantarkan Bony menjuarai lomba mendongeng tingkat nasional tahun 2011 lalu. Namun demikian, geliat gerakan mendongeng baru populer tahun 2014. Setidaknya, saat ini ada 20 pendongeng di eks-Karesidenan Surakarta yang tergabung dalam Komunitas Istana Dongeng Nusantara.

Bony menambahkan,  kini ia turut aktif dalam kegiatan pembentangan aqidah yang dimotori Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Tengah. Program tersebut dituangkan dalam bentuk safari santri TPQ dan hari mendongeng tiap 25 Desember.

“Sekarang dongeng sudah populer. Dari awalnya sekadar untuk variasi pendidikan sekarang jadi media pembentangan aqidah untuk anak-anak,” ujarnya

Inovasi dakwah juga dilakukan, Sriyono (39) tahun. Pria yang dikenal dengan julukan Pendekar Yo ini menggunakan sulap sebagai media dakwah.

Sama seperti Bony, warga Semanggi RT 4 RW XXI ini menemukan inovasi dari kegelisahannya saat mengajar TPQ. Ia mengungkapkan, tahun 2000 ia telah aktif sebagai pengajar TPQ. Namun ia merasa berbagai cara mengajar yang dilakukan tidak berhasil mengondisikan anak.

Tahun 2003 menjadi sejarah besar bagi Pendekar Yo. Ia menemukan sulap sebagai “senjata” untuk menarik perhatian anak. Ia mengaku belajar secara autodidak, beragam trik sulap dikuasainya dengan menonton kaset peragaan sulap dan membeli alat. Perlahan-lahan, ia memasukan pesan-pesan moral, akhlak dan adab dalam sulapnya.

“Kalau sekadar sulap orang hanya tertawa dan kagum. Maka saya masukan nilai-nilai Islam, seperti pesan untuk menyayangi orangtua, sedekah dan lain-lain sebagai muatan dakwah,” ujarnya.

Namun demikian, perjalanan dakwah tak semulus harapan. Pendekar Yo pernah dituding menggunakan sihir, padahal yang dilakukan hanya trik kecepatan tangan. Namun demikian, hal itu dianggapnya sebagai tantangan dakwah.

“Sampai sekarang masih ada yang tidak suka dengan cara saya, karena dianggap pakai sihir. Tapi biarkanlah mereka belum tahu,” tandasnya.

1
2
BAGIKAN