JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Cara Unik Warga Desa Krakitan Jaga Kebersamaan, Satu Kampung Kepincut Arisan Piyik...

Cara Unik Warga Desa Krakitan Jaga Kebersamaan, Satu Kampung Kepincut Arisan Piyik Burung Jalak

220
BAGIKAN
Joglosemar | Dani Prima
BURUNG JALAK—Penangkaran burung Jalak Suren di Kampung Jalak Dukuh Nglebak Desa Krakitan Kecamatan Bayat.

KLATEN – Warga di Dukuh Nglebak, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat mayoritas beternak burung jalak jenis Jalak Suren.

Usut punya usut, penangkaran burung jalak di kampung tersebut berkembang pesat karena sistem arisan.

Salah satu penangkar burung jalak, Rahmanto, (49) mengatakan arisan tersebut berlangsung sejak 2013. Saat ini diikuti 80 keluarga penangkar burung jalak, dari total 125 keluarga di Kampung Jalak.

“Tiap bulan kami menggelar arisan piyik (anak burung),” ujarnya saat ditemui Joglosemar di kediamannya, Minggu (30/5/2017).

Sekretaris Desa Krakitan itu menambahkan, arisan digelar tiap tanggal 10. Menurutnya, para penangkar burung itu berkumpul dan menyetorkan uang Rp 100.000 dan diundi untuk empat pemenang.

Tiap pemenang mendapat Rp 2 juta yang diwujudkan dalam tiga pasang anakan Burung Jalak berumur sekitar satu bulan.

Nah, jika harga sepasang piyik itu Rp 500.000, pemenang masih akan dapat kembalian Rp 500.000. Tapi kalau harga piyik sedang naik, pemenang harus siap-siap tombok.

“Dua belas pasang piyik untuk empat pemenang arisan itu dibeli dari sesama peserta arisan. Istilahnya nglarisi teman sendiri sekaligus mendorong para penangkar skala kecil agar tetap eksis dan cepat berkembang,” kata Rahmanto.

Joglosemar | Dani Prima
BURUNG JALAK—Penangkaran burung Jalak Suren di Kampung Jalak Dukuh Nglebak Desa Krakitan Kecamatan Bayat.

Selain arisan, perkumpulan rutin tiap bulan itu juga menjadi ajang diskusi dengan berbagai tema. “Dari menyikapi fluktuasi harga hingga mencari solusi untuk mengatasi bermacam kendala seperti serangan penyakit dan lain-lain,” kata Warsono, Ketua Paguyuban Kukilo Arto Kampung Jalak.

Bahkan, Warsono menambahkan, paguyuban tidak jarang mengundang narasumber dari luar seperti dokter hewan dan lain-lain.

Kuatnya rasa kebersamaan untuk bahu membahu membangun kesejahteraan itulah, menurut Warsono, yang membuat Kampung Jalak mampu bertahan dan terus tumbuh sejak 1998 silam.

Setelah belasan tahun berjuang untuk membesarkan nama Kampung Jalak, sekarang para penangkar burung itu tinggal duduk santai menunggu para pecinta burung atau pedagang berdatangan.

“Pasarannya sudah jelas. Pihak perbankan juga tidak memandang sebelah mata untuk mengucurkan pinjaman modal,” kata Warsono.

Dani Prima