JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Cerita Dibalik Pemakaman Korban Bom Kampung Melayu di Klaten

Cerita Dibalik Pemakaman Korban Bom Kampung Melayu di Klaten

244
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
KORBAN BOM KP MELAYU – Anggota TNI dan Polri mengangkat peti jenazah Briptu Anumerta Imam Gilang Adinata saat digelar upacara serah terima jenazah di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Kamis (25/5). Briptu Anumerta Imam Gilang Adinata merupakan salah satu dari tiga polisi yang meninggal akibat ledakan bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta.

Duka mendalam menyelimuti keluarga dan orang-orang terdekat Imam Gilang Adinata (25). Polisi berpangkat Briptu (Anumerta) itu turut menjadi korban ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017) malam.

Jenazah dimakamkan di Kampung Srago Gede RT 5 RW 7, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Kamis (25/5/2017) sore.

Jenazah almarhum tiba sekitar pukul 16.00 WIB dan langsung di salatkan di Masjid Jami’ sebelum disemayamkan di rumah duka. Isak tangis pun pecah.

Jenazah di kebumikan di TPU setempat sekitar pukul 17.00. Upacara pemakaman dipimpin Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jawa Tengah (Jateng) , Kombes Pol Edy Murobowo.

Keluarga tidak pernah menyangka, Imam, begitu dia akrab disapa, akan pergi secepat itu. Niat melamar gadis pujaan hatinya pun pupus bersama sejuta harapan lainnya.

Imam berencana melamar kekasihnya, Dinda, warga Kecamatan Delanggu setelah lebaran nanti. Kerabat almarhum, Suryani (41), Dinda adalah seorang perawat di salah satu rumah sakit di Jakarta.

“Setahu saya dia sudah berpacaran dengan Dinda selama satu tahun ini dan setelah lebaran nanti mau melamarnya,” ujarnya.

Di mata Suryani, almarhum Imam merupakan sosok yang pendiam dan tidak banyak tingkah. “Dia itu pendiam namun punya banyak teman di sini. Walapun lahir di Jakarta, dia ini besarnya di Klaten,” katanya.

Paman almarhun, Rohmat Sugiyarto (44) mengatakan, meski bertugas di Jakarta, almarhum masih menyempatkan pulang ke kampung halaman. Terakhir almarhum pulang ke Kampung Srago Gede sekitar akhir pekan lalu untuk mengikuti Sadranan.

”Di rumah hanya sehari semalam, sempat ziarah ke makam kakek karena memang sejak kecil dia tinggal disini bersama saya walau orangtuanya kerja di Jakarta,” katanya.

Menurut Rohmat, keluarga tidak mendapat firasat apapun akan kepergian Imam. Hanya saja, Rohmat merasa almarhum kurang bersemangat dan terlihat kelelahan saat pulang ke kampung lalu. Biasanya biasanya bila almarhum pulang ke kampung  selalu ceria dan langsung bermain dengan teman-teman sebaya.

”Tapi enggak tahu pas pulang terakhir kemarin kok wajahnya kusut, loyo, enggak punya semangat. Padahal kalau pulang biasanya main dengan teman-teman kampung wong dia besar disini, sudah seperti anak saya sendiri,” katanya.

Rohmat menambahkan, pihak keluarga mengikhlaskan kepergian Imam. Karena kepergian almarhum itu karena tugas Negara. “ Kami sedih juga bangga akan dedikasi almarhum untuk Negara. Kami ikhlaskan kepergian almarhum,” imbuhnya.

Perjalanan Karier

Bripda Imam Gilang Adinata naik pangkat setingkat menjadi Briptu (Anumerta) karena gugur saat melaksanakan tugas pengamanan pawai obor. Imam merupakan sulung dari dua bersaudara pasangan Muh Sri Sarjono dan Ening Wiyarti.

1
2
BAGIKAN