JOGLOSEMAR.CO Sosok Cerita Inisiator Waroeng Murah Rp 2000, Sampaikan Arti Penting Bersedekah

Cerita Inisiator Waroeng Murah Rp 2000, Sampaikan Arti Penting Bersedekah

79
BAGIKAN
Mas Nur, begitu pria kelahiran Surakarta, 29 Juli 1982 ini disapa. Foto : Insan Dipo Ferdias

Baginya sedekah adalah penyempurna kualitas hidup. Tak hanya Sedekah telah menjadi jalan perjuangannya. Begitulah semangat yang ingin disampaikan Muhammad Nur Syawaluddin melalui gerakan sedekah Waroeng Murah Wong Solo Rp 2.000.

Mas Nur, begitu pria kelahiran Surakarta, 29 Juli 1982 ini disapa. Kepada Joglosemar, bapak dua anak ini membuka kisah di balik perjalanan Waroeng Murah Rp 2.000. Ia mengungkapkan, gerakan sedekah ini tak lepas dari perjalanan hidupnya.

“Ini nggak lepas dari pengalaman hidup saya tahun 2010 lalu,” katanya.

Saat itu Nur mengaku mendapat musibah. Usaha diler motor bekas yang dilakoninya bangkrut lantaran kena tipu hingga lebih dari Rp 300 juta. Bahkan, rumah miliknya turut amblas untuk membayar sejumlah utang.

Dalam kondisi terpuruk ia bermuhasabah. Nur merasa ada sebab dari kemalangan yang datang padanya. Lantas ia memutuskan untuk memperdalam ajaran Islam. Dari Ustaz Sayfudin, kakak ipar Nur, ia menemukan hikmah dibalik sedekah.

Kakak iparnya selalu mengajarkan, setelah mengaji ia dan jemaah lain diminta untuk menyantuni kaum dhuafa.  Ia pun sadar selama ini sedekah yang diberikannya salah dan kadarnya merupakan sedekah orang pelit.

“Usaha diler itu saya lakoni sejak tahun 2005, hasilnya lumayan. Saya tidak sadar kalau itu ujian, untungnya jutaan tapi sedekah saya sebulan paling cuma Rp 50.000,” ujar pemilik diler motor Jalan Patimura No 15, Dawung Wetan, Danukusuman ini.

Merasakan ada hikmah dibalik sedekah, Nur memantapkan diri untuk rutin menyantuni kaum dhuafa degan uang pribadi. Hal itu dilakukan dengan nasi bungkus gratis bersama istrinya.

TPA Purti cempo, Trotoar Jalan Slamet Riyadi, Kawasan Pasar Legi, Terminal Tirtonadi, Stasiun Balapan dan sejumlah ruas jalan di Kota Solo menjadi saksi bisu gerakan berbagi nasi yang dilakoni Nur.

Siapa sangka, langkah Nur mengundang perhatian. Tak sedikit yang turut bersedekah bersamanya bahkan menjadi relawan. Hal ini dilakoni Nur sepanjang tahun 2011 hingga 2013. Sebanyak 200 hingga 300 nasi bungkus habis dibagikan dalam waktu satu jam.

Tak ingin sendirian menikmati keberkahan sedekah Nur, mengunggah kegiatannya ke sosial media . Tak disangka ada dermawan dari Jakarta mendonasikan satu unit mobil. Nur ditantang, jika bisa menjalankan   program sosial ini satu tahun mobil itu boleh dimilikinya  untuk operasional warung murah.

“Alhamdulillah mobil itu jadi hak kami untuk menjalankan kegiatan Waroeng Murah,” katanya.

Empat tahun  sudah Nur menyisir sudut kota solo. Menyapa kaum papa dengan sebungkus nasi murah, Rp 2.000.

“Kami tidak mengambil keuntungan sepeser pun. Semua hasil penjualan di hari Senin sampai Kamis nanti kami belanjakan untuk memberikan nasi kotak gratis setiap malam Ahad untuk kaum dhuafa dan tuna wisma,” katanya.

Muhammad Nur Syawaluddin. Foto : Insan Dipo Ferdias

Melalui Waroeng Murah Wong Solo, Nur juga ingin menyampaikan arti penting  pentingnya bersedekah, dan menghindarkan diri dari sikap meminta-minta. Dengan bekerja dan mendapat uang Rp 2.000 ternyata cukup untuk membeli sebungkus nasi

Waroeng Murah Rp 2.000 Nur juga menginspirasi berdirinya gerakan serupa. Misalnya Warung Ikhlas dan Warung Sedekah di Solo. Ia juga berhasil menginspirasi gerakan yang sama di Malang dan Surabaya. Tak hanya menggelar kegiatan rutin di Surakarta, Nur juga turut memberikan bantuan nasi gratis hingga ke berbagai daerah, termasuk pada korban longsor di  Ponorogo.

“Saya ingin menyebar semangat sedekah ini seperti virus, silakan bentuk gerakan sedekah dalam bentuk apapun dengan nama apapun,” katanya.

Nur meyakini sedekah bisa memghapus kesalahan terlebih jika  sedekah dilakukan baik waktu lapang dan sempit. “Sedekah juga bisa membersihkan jiwa dan mengikis kepemilikan kita terhadap dunia sehingga kita bisa peduli terhadap sesama,” katanya.

Suka Duka

Suka duka pernah dirasakan Nur dan rekan-rekannya dalam menjalankan Waroeng Murah 2000. Saat awal menjalankan Waroeng Moerah ia pernah diganggu preman setempat dan para penjudi. Namun hal itu dihadapinya dengan penuh kesantunan. Bahkan jika kini singgah di bantaran rel mereka justru membantu Nur berjualan, kadang menertibkan antrean pembeli.

“Sebungkus nasi yang diberikan dengan ketulusan ternyata mampu melunakkan para preman, sekarang malah mereka membantu kami. Sampai tempat sudah di sapu dan ngatur antrean,” katanya.

Nur, juga ingat saat membagikan nasi gratis di kawasan Baturono, Pasar Kliwon. Ia melihat penyandang disabilitas merangkak dari Baturono hingga Jembatan Mojo. Nur menghampiri dan memberikan sebungkus nasi. Namun nasi yang diberikannya ditolak.

“Dia bilang tidak lapar dan silakan diberi pada yang lebih berhak. Ternyata hati dia mulia, itu juga membuat saya semakin semangat bersedekah,” katanya.

Nur mengungkapkan Waroeng Murah Wong Solo juga pernah dikira program tim sukses pasangan Capres yang berebut kursi di Pilpres. Padahal Nur juga ingin mengajak semua orang berbagi terhadap sesama tanpa memandang usia, kelompok dan perbedaan agama.

Dari Diganggu Jadi Dibantu Preman

Muhammad Nur Syawaluddin meyakini sedekah bisa menghapus kesalahan terlebih jika  sedekah dilakukan baik waktu lapang dan sempit.

“Sedekah juga bisa membersihkan jiwa dan mengikis kepemilikan kita terhadap dunia sehingga kita bisa peduli terhadap sesama,” katanya, belum lama ini.

Suka duka pernah dirasakan Nur dan rekan-rekannya dalam menjalankan Waroeng Murah 2000. Saat awal menjalankan Waroeng Moerah ia pernah diganggu preman setempat dan para penjudi.

Namun hal itu dihadapinya dengan penuh kesantunan. Bahkan jika kini singgah di bantaran rel mereka justru membantu Nur berjualan, kadang menertibkan antrean pembeli.

“Sebungkus nasi yang diberikan dengan ketulusan ternyata mampu melunakkan para preman, sekarang malah mereka membantu kami. Sampai tempat sudah di sapu dan ngatur antrean,” katanya.

Nur, juga ingat saat membagikan nasi gratis di kawasan Baturono, Pasar Kliwon. Ia melihat penyandang disabilitas merangkak dari Baturono hingga Jembatan Mojo. Nur menghampiri dan memberikan sebungkus nasi. Namun nasi yang diberikannya ditolak.

“Dia bilang tidak lapar dan silakan diberi pada yang lebih berhak. Ternyata hati dia mulia, itu juga membuat saya semakin semangat bersedekah,” katanya.

Nur mengungkapkan Waroeng Murah Wong Solo juga pernah dikira program tim sukses pasangan Capres yang berebut kursi di Pilpres. Padahal Nur juga ingin mengajak semua orang berbagi terhadap sesama tanpa memandang usia, kelompok dan perbedaan agama.

Arief Setiyanto