JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Delapan Korban Konvoi Brutal Datangi Mapolres Klaten, Satu Masih Trauma

Delapan Korban Konvoi Brutal Datangi Mapolres Klaten, Satu Masih Trauma

782
BAGIKAN
Joglosemar/Dani Prima
PELAJAR DITANGKAP – Ratusan pelajar yang ditangkap di beberapa wilayah di Klaten di kumpulkan di halaman belakang Mapolres Klaten untuk didata dan interogasi.

KLATEN—Korban kebrutalan konvoi kelulusan bersama orangtua dan guru mereka mendatangi Mapolres Klaten, Kamis (4/5/2017).

Delapan orang resmi melaporkan kasus penganiayaan yang dilakukan gerombolan pelajar pada Selasa (2/5/2017) tersebut.

Salah satu korban yang datang di Mapolres Klaten, Devi Sryaji (18) siswa kelas XII SMA Negeri 1 Karangnongko.

Ia menjadi korban kebrutalan gerombolan pelajar lain yang berkonvoi lewat depan sekolahnya. “Kedatangan kami untuk melaporkan penganiayaan yang terjadi Selasa (4/5/2017) lalu,” katanya.

Devi menuturkan, pada saat itu, sekitar pukul 14.00 WIB, dia bersama tiga temannya sesama kelas XII sedang nongkrong di depan sekolah.

“Lalu tiba-tiba ada sekitar 50 sepeda motor. Sebagian besar dikendarai berboncengan berkonvoi dari arah selatan melintas di depan sekolah,” katanya.

Tri Purnama Adi didampingi orang tuanya saat melapor ke Mapolres Klaten, Kamis (4/5/2017). Foto : Dani Prima

Devi mengaku melihat gerombolan pelajar itu berteriak-teriak sembari mengacungkan celurit. Dia bersama tiga temannya secara spontan langsung memutuskan lari.

“Saat lari tiba-tiba saya ditabrak motor dari belakang. Saya jatuh dan sempat terseret,” imbuhnya.

Dengan luka robek di pelipis kanan akibat terbentur aspal, Devi berusaha bangkit dan mencari perlindungan dengan masuk ke gang permukiman warga sekitar.

“Kami tidak kenal mereka dari sekolah mana. Selama ini kami juga tidak pernah punya musuh dari sekolah manapun,” kata Devi.

Devi menambahkan, aksi brutal kelompok pelajar itu berlangsung lebih dari lima menit. “Mereka sempat mendapat perlawanan dari sejumlah warga sekitar yang berusaha menyelamatkan kami,” ungkapnya.

Sementara itu, korban lainnya,  Tri Purnama Adi (18) warga Desa Basin, Kecamatan Kebonarum datang ke Mapolres Klaten didampingi dua orang tuanya yakni Marjono (60) dan Ayem (50).

Tri datang ke Mapolres Klaten untuk menjadi saksi atas penganiayaan yang dialaminya oleh segerombolan pelajar brutal saat konvoi kelulusan Selasa lalu.

Dengan masih menahan rasa sakit akibat luka di bagian kepala dan kakinya, Tri mengatakan, waktu kejadian pengeroyokan  itu, ia hendak berangkat ke sekolahnya untuk melihat hasil ujian nasional.

“Saya mengendarai sepeda motor dengan berboncengan sama teman saya, Munawir. Tiba-tiba sampai di simpang empat Desa Nglinggi dari arah berlawanan segerombolan pelajar sedang konvoi, tapi entah kenapa mereka langsung memepet saya hingga jatuh dari motor,” kata Tri.

Setelah terjatuh, tanpa diduga gerombolan brutal itu langsung mengeroyoknya. Tri mengaku sudah tidak bisa berbuat apa-apa hanya tergeletak pasrah sambil menahan rasa sakit akibat pukulan dan tendangan dari segerombolan orang itu.

“Saya jatuh, sampai tidak sadarkan diri. Tahu-tahu sekujur tubuh saya banyak luka, bahkan sepeda motor saya juga dirusak. Mereka yang mengeroyok itu sebagian pakai seragam sekolah,” ungkapnya.

Sang ayah, Marjono mengaku sangat terkejut dengan melihat kondisi putranya saat ini.

Luka-luka yang dialami putranya itu hingga kini masih belum sembuh total, bahkan akibat dari serangan itu Tri masih trauma. Mereka berharap pelaku dalam pengeroyokan ini dapat segera ditangkap oleh aparat kepolisian.

“Anak kami mengalami luka di bagian lutut kaki, pelipis mata sobek hingga mata lebam. Saat ini anak kami masih sangat trauma, mau keluar rumah masih takut,” katanya.

Kapolres Klaten AKBP Muhammad Darwis mengatakan, sampai Kamis (4/5/2017) sudah ada delapan korban penganiayaan dan perusakan oleh segerombolan pelajar tersebut melapor.

“Laporan masih kita dalami lagi, dan kita juga masih akan menerima beberapa laporan dari korban lainnya,” katanya.

Kapolres menambahkan, sampai saat ini tidak ada laporan korban meninggal dunia dari aksi brutal itu.

“Saya tegaskan bahwa berita adanya korban yang meninggal dunia itu adalah berita palsu alias hoax. Sampai saat ini, kita juga masih mengejar beberapa pelaku di daerah Yogjakarta,”ujarnya.

Dani Prima