JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Disandingkan dengan Makam Putri Kesayangan, Mbah Gotho Sudah Minta Sejak 1995

Disandingkan dengan Makam Putri Kesayangan, Mbah Gotho Sudah Minta Sejak 1995

1437
BAGIKAN
Wabup Sragen, Dedy Endriyatno bersama Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto mengusung jenasah hingga ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Umum Dukuh Tanggung, Grasak, Plumbon, Sambungmacan, Senin (1/5/2017). Foto : Wardoyo

Suasana duka menyelimuti kediaman Suryanto, cucu Mbah Gotho di Dukuh Cemeng, Sambungmacan, Senin (1/5/2017).

Sejak malam hari ketika kabar meninggalnya Mbah Gotho tersiar pukul 18.00 WIB, warga dan beberapa petakziah sudah silih berganti mendatangani menyampaikan belasungkawa.

Mbah Gotho dimakamkan dengan prosesi kristiani. Jenazah Mbah Gotho yang memakai setelan pakaian jas dan sepatu diletakkan di dalam peti. Di depan peti yang diletakkan di ruang utama tersebut terdapat salib serta foto Mbah Gotho saat masih hidup.

Salah satu cucu Mbah Gotho, Suryanto menceritakan detik-detik kakeknya meninggal pada Minggu, 30 April 2017 sore. Keluarga mengaku tidak merasakan firasat apapun jika Mbah Gotho akan meninggal.

“Jadi setelah keluar dari rumah sakit (18 April, red) itu sempat bersedia makan. Tetapi sejak tujuh hari lalu nggak mau makan. Simbah hanya tiduran saja, ” kata Suryanto di rumah duka, Senin (1/5/2017).

Namun, Suryanto memang sempat menangkap ada keganjilan tingkah kakeknya sehari sebelum meninggal. Menurutnya Mbah Gotho sejak pagi hingga sore itu tidak tidur. Mbah Gotho kelihatan lebih kuat.

Bahkan dirinya bersama keluarga sempat mengira jika kesehatan Mbah Gotho ada kemajuan. Namun saat itu ia sama sekali tak berfikir jika itu adalah lelaku (firasat) bahwa kakeknya itu akan pergi selamanya.

“Jadi simbah itu biasanya cuma tiduran. Kalau Minggu lalu, minta duduk, karena nggak kuat harus dituntun. Makanya keluarga mengira kesehatan simbah mulai bagus. Nggak tahunya simbah dipanggil (meninggal, red), ” jelas Suryanto.

Sesuai permintaan almarhum sejak tahun 1995, Mbah Gotho kemarin dimakamkan berdampingan dengan makam mendiang putrinya di makam Tanggung, Grasak, Plumbon, Sambungmacan, Sragen.

Liang kubur Mbah Gotho tepat berada di sebelah barat makam putrinya bernama Sukirah yan‎g meninggal tahun 1992 silam ketika berusia 60 tahun.

Sukirah merupakan salah satu anak Mbah Gotho hasil pernikahan dengan istri keempatnya. Makam Mbah Gotho dan putrinya itu terletak dalam satu cungkup yang berada di ujung barat komplek pemakaman tersebut.

Tak hanya ingin dimakamkan dalam satu cungkup, Suryanto menuturkan Mbah Gotho juga sudah mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk pemakamannya sejak jauh hari sebelumnya. Perlengkapan tersebut diantaranya kayu jati dan batu nisan.

“‎Kayu jati untuk penutup peti jenazah itu belinya sekitar 18 tahun lalu. Sedangkan batu nisannya beli pada tahun 1992 silam,” ungkapnya.

Dengan meninggalnya Mbah Gotho pada Minggu sore kemarin, lantas warga dan kerabat langsung membersihkan dan mencuci batu nisan serta kayu jati yang telah disimpannya sejak lama. Perlengkapan untuk pemakaman itu dibersihkan sebelum diangkut dengan mobil ke pemakaman pada Senin pagi‎.

“Batu nisan dan kayu yang telah disimpan lama untuk persiapan pemakaman Mbah Gotho langsung dibersihkan tadi. Akhirnya kayu dan batu nisan itu dipakai juga sesuai keinginan awal Mbah Gotho pada awalnya,” kata dia.

Sodimejo alias Mbah Gotho warga Segeran, Cemeng, Sambungmacan meninggal Minggu, 30 April 2017 pukul 18.00 WIB. Selamat jalan Mbah Gotho……

Wardoyo