dr RW Hapsari Putri, Menjadi Dokter Sekaligus Pengusaha

dr RW Hapsari Putri, Menjadi Dokter Sekaligus Pengusaha

109
dr RW Hapsari Putri, MSc (dua dari kanan. Foto : Dok Pribadi

Memberikan layanan kesehatan sekaligus menjadi seorang pengusaha perempuan adalah hal yang tak terduga dalam diri seorang Hapsari Putri.

Dia mengakui dunia bisnis yang kini sedang mulai dijajakinya berawal dari interaksinya dengan beberapa pengusaha di Kota Solo.

Dia merasa tertantang untuk membuat sesuatu yang baru yang belum pernah ada di Kota Solo dan belum pernah dilakukan oleh teman- temannya.

Hapsari menyadari latar belakang keilmuannya sebagai seorang dokter itu lebih dekat dengan dunia eksak yang identik dengan penelitian di laboratorium.

Maka dengan bermodal pengetahuannya terhadap dunia riset membuat perempuan kelahiran Solo pada 7 Maret 1979 ini mencari-cari jenis tanaman apa yang bisa dimanfaatkan untuk dunia bisnis. Lalu di mulai mencari pohon yang memiliki potensi ekonomi tinggi selain pohon jati yaitu pohon gaharu.

“Waktu itu saya baca- baca hasil riset mahasiswa tentang khasiat dari pohon gaharu bagi dunia kesehatan,” ujar Hapsari saat ditemui Joglosemar di ruang praktiknya di Jalan Cendrawasih Nomor 7 Kompleks Purnawirawan AU, Ngemplak, Boyolali.

dr RW Hapsari Putri, MSc. Foto : Dok Pribadi

Hapsari mengaku sebagai seorang perempuan dia sangat menyukai parfum maka setelah mengenal pohon ini pada tahun 2013 dia mulai intens mengamati pohon ini.

Baca Juga :  SF Lukfianka Sanjaya, Dosen dan Game Developer dari IAIN Surakarta

Dia pun akhirnya paham jika pohon ini begitu khas karena getah yang dihasilkan itu berbau harum yang bisa dimanfaatkan untuk pengharum ruangan atau aroma terapi.

Getah pohon gaharu sebenarnya hanyalah hasil pertahanan diri pohon gaharu, membiarkan pohon dalam keadaan sakit menjadi kuncinya.

Selain itu, dia pun mulai mempelajari berbagai cara lain untuk bisa memanfaatkan pohon gaharu dengan maksimal. Oleh karenanya, dia pun belajar dari sosok sahabat barunya dari negeri Jiran, Malaysia.

Dari sahabat barunya itulah dia tahu jika daun pohon gaharu bisa dimanfaatkan untuk membuat teh. Namun, dia mengaku enggan membuat teh daun langsung, karena baginya itu tampak seperti mengekor alias kurang kreatif.

“Saya memutuskan membuat serbuk teh hijau meskipun itu harus membuat saya melibatkan pihak lain untuk produksi, karena memang alatnya mahal,” tutur Hapsari.

Menunggu 8 Tahun

Bisnis yang pada mulanya sering dipandang remeh oleh beberapa kalangan kini sudah mulai mengepakkan sayapnya. Berkat dukungan teman- teman di Komunitas Tangan Di Atas (TDA) dan dukungan rekan- rekan di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Surakarta membuatnya mantap menekuni dunia usaha yang baru digelutinya selama tiga tahun ini. Segmentasi pasar bagi produknya kebanyakan adalah dari luar negeri seperti India dan Korea.

Baca Juga :  SF Lukfianka Sanjaya, Dosen dan Game Developer dari IAIN Surakarta

“Kalau untuk ukuran orang di Indonesia produk saya terbilang mahal harganya berkisar Rp 40.000 per gram untuk bubuk aroma terapinya, padahal kan memang proses produksinya yang mahal,” ungkap Hapsari.

Hapsari mengaku bisnis yang baru saja dirintisnya merupakan kerja sama dia dengan sang ibunda tercinta.

Oleh karenanya sebagai bisnis keluarga dia pun menempatkan sang ibu sebagai Direktur Utama di CV Aquilaria Princess Agarwood dan dia memilih divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Hal ini dia lakukan sebagai konsistensinya dia menjalani profesi sebagai dokter umum di tiga klinik.

Hapsari mengisahkan usaha yang ditekuninya kini sudah berkembang dengan memiliki lahan yang ada di daerah pegunungan di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Mahalnya harga bahan baku, dalam hal ini harga kayu pohon gaharu menjadikannya berkeinginan memiliki bahan pokok produksi sendiri. Meskipun untuk bisa menikmati pohon gaharu itu harus menunggu waktu delapan tahun lamanya.

“Setelah delapan tahun batangnya baru bisa difungsikan sebagai parfum yaitu dengan cara diekstrak terlebih dahulu,” tandasnya.

1
2
BAGIKAN