JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Eksistensi Perajin Alat Cap Batik Bratan, Pesanan Datang dari Berbagai Hingga Jepang

Eksistensi Perajin Alat Cap Batik Bratan, Pesanan Datang dari Berbagai Hingga Jepang

32
BAGIKAN
Huriyanto
CAP BATIK–Trianto (39) menunjukkan hasil Cap Batik yang sudah jadi di rumah produksinya kawasan Pajang, Laweyan, Kamis (11/5).

Keberadaan batik cap tidak bisa dipisahkan dari alat/cetakan cap batik. Di Kampung Bratan, Laweyan Solo ada satu keluarga yang setia dan tetap eksis menjalankan bisnis pembuatan alat yang satu ini.

Trianto (39) bersama adik kandungnya Nugroho (36) tengah sibuk menyelesaikan pembuatan alat cap batik di rumahnya di kampung Bratan RT01/ RW09 Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo.

Saat Joglosemar berkunjung keduanya bersama pekerja lain sedang berbagi tugas membuat alat cap batik berbagai motif (desain).

Sebagian tampak tengah memotong-motong tembaga dengan ukuran kecil untuk dirakit mengikuti desain yang telah dibuat. Mereka terlihat sangat lihai menggunakan alat potong seperti gunting, tang cepit, dan tang potong untuk menghasilkan atat cap batik dengan pola sesuai keinginan.

Ya rumah produksi ini merupakan milik Joko Biyartono (66). Memasuki usia senja usaha membuat cetakan cap batik yang telah ditekuninya diteruskan oleh anak-anaknya.

“Kalau pesanan kami banyak sih mas dari berbagai daerah di Indonesia, karena tempat bapak di sini sudah di kenal luas sama perajin batik,” kata Trianto di sela-sela aktivitas membuat desain cap batik.

Ia berkisah, usaha keluarganya diawali usai ayahnya memberanikan diri membuka usaha di tahun 2000 setelah sejak tahun 1960 menimba ilmu dengan menjadi buruh perajin cetakan cap batik di wilayah Bali dan Jogja. “Pelangan pertama bapak itu orang Madura mas ketemu di mangkunegaran,” ujarnya.

Satu alat cap batik setidaknya membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan mulai pengambaran desain, pemotongan tembaga sambil perakitan. Khusus mengenai desain, beberapa pemesan biasanya sudah membawa sendiri gambar sesuai keinginan.

Hanya saja tak jarang pemesan diberikan masukan agar desain yang ada lebih sempurna. Dari berbagai proses itu terciptalah berbagai motif seperti parang, sidomukti, kawung, slobok, boketan dan lain sebagainya. “Untuk harga mulai Rp 1 juta sampai Rp 2 juta tergantung kerumitan motif,” terang dia.

Sementara itu, Nugroho yang emrupakan putra ketiga Joko Biyartono mengaku awalnya tak tertarik mengikuti jejak ayahnya menjadi perajin alat cap batik. Namun keterampilan mendesain telah ia warisi dari sang ayah sejak dirinya remaja.

“Ya, dulu ikut paman jualan ayam goreng tapi lama nggak enak juga. Akhirnya saya pulang ke rumah terus bantu-bantu bapak buat cap batik ini,” kata dia.

Seiring dengan waktu dirinya mengaku telah menikmati pekerjanya saat ini. “Ya mas ini kebetulan saya baru fokus mengerjakan pesanan dari Mbak Ririko dari Jepang. Kemarin ke sini deal harga terus ini suruh membuat. Bulan depan akan dia ambil,” ujarnya.

Huriyanto