JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Gamelan Akbar dan Estetika Penonton

Gamelan Akbar dan Estetika Penonton

79
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
FESTIVAL GAMELAN 2017- Warga menyaksikan Festival Gamelan 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, Sabtu (6/5).

Aris Setiawan, Etnomusikolog, Pengajar di ISI Surakarta

Gelaran “Konser Gamelan Akbar” telah usai dipertontonkan di Benteng Vastenburg Solo, pada 6 Mei 2017. Setelah pertunjukan selesai, bunyi gamelan itu berpendar menjadi beraneka rupa tafsir. Beberapa dosen di Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, segera mengunggah status di media sosial, yang berisi komentar atas pertunjukan tersebut.

Mereka menyayangkan sistem kuratorial yang tidak berjalan dengan baik, sehingga karya-karya yang ditampilkan (terutama perwakilan kelompok gamelan dari beberapa kecamatan-kelurahan di Solo) tidak memenuhi hasrat estetika penonton.

Bahkan terdapat karya berisi lagu nasional Indonesia Raya, namun diiringi dengan gamelan. Benturan nada terjadi, antara Musik Barat (solmisasi) yang diatonis dengan sistem musik gamelan yang pentatonik (slendro-pelog).

Karya itu kemudian nampak dipaksakan, karena terjadi kekacauan (chaos) pada interval dan ambitus nada yang dimunculkan. Namun, terlepas dari salah dan benar, mari kita coba menelisiknya dengan lebih cermat, menggunakan cakrawala pemikiran dari masyarakat kampung (alias sipembuat karya tersebut), di luar cara pandang ilmiah dan akademis tentang musik.

Citra Musikal    

Sebenarnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memiliki misi mulia dengan menghibahkan perangkat gamelan pada masing-masing kecamatan-kelurahan yang ada. Harapannya, agar bunyi gamelan dapat senantiasa bendenting menemani aktivitas dan hasrat hidup orang Solo.

Di pendapa kelurahan, latihan-latihan rutin mulai digelar. Walaupun hampir kebanyakan peserta dan pelakunya adalah kalangan generasi tua, namun kehadiran gamelan mampu memberi oase yang menyegarkan terutama dalam konteks hubungan dan komunikasi publik.

Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
FESTIVAL GAMELAN 2017- Warga menyaksikan Festival Gamelan 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, Sabtu (6/5).

Dengan berlatih gamelan, warga dapat saling bertemu, bertegur sapa, mendiskusikan persoalan-persoalan kampung, serta mencari solusinya. Gamelan mengakrabkan dan mendekatkan antar individu. Terlepas dari karya-karya (gending) yang dimainkan, tujuan dihadirkannya gamelan nampak lebih prestisius berimisi sosial.

Kemudian, gelaran Konser Gamelan Akbar yang setiap tahun diadakan oleh Pemkot Solo mencoba mengakomodasi eksistensi kelompok-kelompok gamelan di beberapa kelurahan tersebut. Maklum, setidaknya hal itu dapat menjadi tolok ukur keberhasilan hibah gamelan yang telah dilakukan Pemkot.

Sekaligus menjawab pertanyaan: adakah karya-karya baru yang dimunculkan, bagaimana konsistensi mereka dalam berlatih, dan adakah perubahan yang nampak ketika gamelan hadir di tengah-tengah kehidupan mereka.

Sayangnya, hal tersebut tidak diimbangi dengan misi pengembangan dan pendidikan gamelan yang ideal. Setelah gamelan dihibahkan, tidak ada lagi kontrol yang berkelanjutan. Masyarakat dibiarkan dan dibebaskan, gamelan itu hendak dibunyikan maupun tidak, bukan lagi hal yang penting. Selain itu, gending-gending apa yang disajikan juga tidak terpantau dengan baik. Akibatnya, di beberapa kelurahan kekurangan guru atau pelatih gamelan.

Hal ini menjadi fatal ketika meminta mereka (kelompok gamelan kelurahan) tampil di atas panggung megah dan mewah seperti Konser Gamelan Akbar beberapa waktu lalu. Karya-karya yang disajikan tidak terkurasi dengan baik. Vokal yang cenderung sumbang, bahkan gamelan yang blero atau fals.

Serta yang paling menjadi sorotan adalah benturan nada, musik Barat dan gamelan yang disajikan tidak pas atau aneh. Akan tetapi, terkait dengan poin terakhir tersebut, kita tidak sepenuhnya dapat menyalahkan mereka, ada alasan kuat yang mendasari bangunan estetika musikal mereka sebagaimana yang tertuang dalam karya itu.

Benturan-benturan nada antara Musik Barat dan gamelan telah berlangsung lama. Bahkan sejak karya berjudul Kinanthie Sandoong yang diciptakan Ki Hadjar Dewantara, digelar pada tahun 1916 di Belanda. Karya itu memadukan nada gamelan pada vokal dengan instrumen musik piano. Setelahnya, kita juga melihat fenomena musik campursari menghiasi belantika musik urban di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Festival Gamelan 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, Sabtu (6/5). Foto : Insan Dipo Ferdias

Gamelan diformat dalam bentuk combo band, beradu dengan keyboard, gitar, bass dan ketipung dangdut. Gaya musik itu begitu digemari oleh masyarakat di Jawa. Hampir setiap kampung memiliki kelompok campur sari, yang menghiasi berbagai acara hajatan dan pesta. Persepsi musikal kemudian beralih. Masyarakat lebih tertarik mendengarkan campursari dibanding gamelan ansih.

Benturan-benturan nada, sebagaimana penjelasan di atas, tidak lagi penting untuk didiskusikan. Walaupun beberapa akademisi di kampus seni misalnya, mengiritik dan menyebut campursari sebagai “musik sampah”.

Tapi mau bagaimana lagi, masyarakat sudah terlanjur menyukai dan menggemarinya. Poin utamanya, yang barangkali luput dipotret oleh kalangan akademisi seni (karawitan), bahwa mendengarkan “musik campursari” tidak sama dengan konstruksi mendengarkan gamelan.

Apabila mendengarkan gamelan, maka bunyi yang dihadirkan menjadi satu kesatuan yang utuh. Suara rebab, gender, bonang, kendang, siter dan lain telah luruh. Instrumen-instrumen saling membangun komunikasi dan interaksi musikal antara stau dengan lainnya, sehingga apabila ada salah satu yang kurang pas maka akan dianggap salah atau keliru.

Akan tetapi tidak demikian halnya saat kita menikmati musik ala “campursari”, masyarakat memiliki kepekaan untuk memisahkan dikotomi antara bunyi gamelan dan Musik Barat. Bagi generasi tua, mereka akan memfokuskan untuk mendengar musik gamelan semata, sementara bagi generasi muda mungkin akan lebih fokus pada sajian instrumen Musik Barat.

Sama seperti saat kita melihat pertandingan sepak bola, tidak semua penonton tertuju pada bola yang menggelinding, namun bisa pula memperhatikan tingkah lucu pemain, sorakan penonton, dan suara petasan.

Karena itu, menilai karya yang dihadirkan pada pertunjukan “Konser Gamelan Akbar” kiranya tak cukup dengan hanya berbekal pengetahuan bergamelan dan bergending yang baik. Lebih dari itu, hal terpenting adalah melihat bangunan atau konstruksi musikal yang mereka (para komunitas masyarakat kampung) miliki dan yakini. ****