JOGLOSEMAR.CO Hiburan Unik Geliat Dunia Animasi di Solo, Turut Andil Garap Adit dan Sopo Jarwo

Geliat Dunia Animasi di Solo, Turut Andil Garap Adit dan Sopo Jarwo

225
BAGIKAN
ilustrasi sopo jarwo. Foto : pulangkerjacom

Deretan perangkat Personal Computer  (PC) nyaris mengisi penuh ruang di rumah nomor A3 Jalan Malabar Raya, Mojosongo, Solo. Bukan Warnet, rumah mungil berteralis cokelat itu merupakan studio animasi.

Bahkan sejak satu bulan lalu, tangan-tangan kreatif para animator di rumah mungil itu turut andil dalam produksi  serial animasi  Adit dan Sopo Jarwo.

Animator senior asal Solo, Doni Purwo Sulistio (35), mengatakan penggarapan animasi Adit dan Sopo Jarwo telah dilakukan sejak sebulan lalu. Animasi ini digarap oleh 13 personel terdiri dari 7 animator, 4 layout, satu orang traffic dan ia sendiri sebagai animator supervisor.

Satu episode paling tidak butuh waktu pengerjaan 10 hari sampai dengan 12 hari. Menurut Doni dari sisi kualitas animasi Indonesia tidak kalah dengan animasi luar negeri.

Sayangnya, faktor pendanaan yang cukup besar masih menjadi momok untuk mengembangkan industri ini. Sebagai contoh ia pernah menawarkan satu karya film animasi dengan durasi 18 menit dihargai oleh rumah produksi senilai Rp 60 juta.

Di sisi lain, mentalitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga masih perlu perhatian, terkadang menemukan SDM yang tidak disiplin terhadap tanggung jawab dan deadline.

 “Yang juga menjadi penyebab animasi sulit berkembang karena masyarakat kita lebih senang dengan sinetron,” katanya.

Edukasi Penting

Doni menyadari edukasi dan kerja sama penting dalam mengembangkan minat untuk terlibat dalam produksi karya animasi. Hal itu disadarinya sejak merintis berdirinya Anima tahun 2011 lalu, komunitas animator dari Kota Solo dan sekitarnya.

Komunitas ini didirikan dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang karya animasi dan proses produksinya.

Mulanya Doni dan rekan-rekannya tak langsung mendapat proyek besar dalam penggarapan film animasi. “Empat bulan awal tidak ada proyek. Bulan  kelima masuk proyek untuk produk iklan,” katanya

Pascamenggarap proyek itu ia dan rekan rekannya mendapat kepercayaan untuk menggarap serial animasi. Selain Sopo Jarwo yang kini tengah digarap, ia dan rekan-rekannya pernah menggarap animasi Plentus Kentus dan Kiko.

“Harapannya Solo ini jadi pusat lahirnya animator di Indonesia,” kata  Doni.

Peluang

Surya, animator asal Baturan, Colomadu, Karanganyar, mengaku mulanya hanya kerja serabutan. Surya mengaku banyak belajar animasi dari studio yang dimiliki Doni. Ia belajar dari tiap proyek animasi yang dikerjakan.

Upah Rp 5 juta per bulan kini dikantonginya tiap bulan. Doni Purwo Sulistyo menambahkan mengungkapkan gaji paling rendah untuk animator pemula di Kota Solo adalah Rp 3 juta.

Peluang kerja dengan upah menjanjikan juga mendorong SMK Negeri 9 untuk membuka jurusan animasi pada tahun 2006  lalu. Namun demikian diakui dari 32 siswa tiap angkatan hanya 50 persen yang betul-betul minat menggeluti animasi. Paling tidak dalam satu kelas hanya ada satu hingga tiga orang bibit unggul animator.

Kualitas para siswa pun cukup membanggakan. Selain  pernah merebut gelar juara di tingkat provinsi, lima siswa SMK 9 Surakarta juga pernah terlibat dalam proyek penggarapan serial animasi Adi sebanyak 60 episode.

“Sayangnya, serial ini tidak ditayangkan di televisi,” kata  Iwan Kustanto (40), guru produktif animasi.

Namun demikian, terdapat persolan pelik. Sebab, jumlah studio animasi di Kota Solo masih sangat sedikit. Menurutnya, hanya ada dua studio animasi sehingga sebagian besar siswa menjalani Praktik Kerja Industri (Prakerin) tidak di studio animasi.

Sementara itu,  Elian Prapaska (17) siswa kelas XI SMK 9 Surakarta mengaku ingin menjadi animator. Keinginan ini berawal dari hobinya yang suka bermain game.  “Gajinya menjanjikan, apalagi kalau sudah ahli, makanya saya pilih jurusan ini.” ujarnya.

Arief Setiyanto