JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Geliat Para Srikandi Jadi Driver Go-Jek, Sehari Bisa Kantongi Rp 200 Ribu

Geliat Para Srikandi Jadi Driver Go-Jek, Sehari Bisa Kantongi Rp 200 Ribu

202
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
GO JEK SRIKANDI – Pengemudi Go Jek wanita tengah membawa penumpang di Jalan Ki Hajar Dewantara, Solo, Sabtu (13/5).

Sosok dengan jaket hijau berlogo Go-Jek itu melaju membelah ruas Jalan Kolonel Sutarto. Sesekali ia terlibat percakapan dengan penumpang di belakangnya.

Ia pun mengantarkan penumpang selamat hingga tempat tujuan. Tapi siapa sangka, sosok driver dibalik masker warna hijau itu adalah perempuan.

Nurhayati Nufus Assiammah (21) salah satunya, ia mengaku sudah sebulan menjadi driver Go-jek. Mulanya, ia bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) selama dua tahun namun berhenti dari pekerjaannya.

Alumnus SMK 5 Surakarta ini memutuskan untuk menjadi driver Go-jek sambil mencari pekerjaan lainnya.  Bahkan menurutnya, jika rajin melaksanakan tugas, pendapatan Rp 3 juta hingga Rp 6 juta per bulan bukan tidak mungkin dikantongi.

“Ini cuma buat sampingan aja kok, sambil cari kerjaan yang lain. tapi hasilnya lumayan sih buat bayar setoran motor dan jajan masih sisa,” ujar gadis yang akrab disapa Meme ini.

Dengan menjadi driver Go-jek setidaknya Meme bisa mengantongi uang Rp 200.000 dalam sehari.

“Emang gitu lho, nggak ada waktu yang kebuang.  Kalau mau cari duit ya ngebid, apa lagi mau mobile pasti dapat banyak,” ujar warga Kestalan RT 3 RW III, Banjarsari, Solo itu.

Namun demikian bukan berarti tak ada duka yang mewarnai. Terkadang ia kesal lantaran adanya pesanan fiktif atau customer yang membatalkan pesanan secara tiba tiba. “Kadang digoda sama ojek pangkalan,” imbuhnya.

Meme mengaku tak malu melakoni pekerjaan yang umumnya dilakukan kaum Adam itu. “Orangtua tahu kok, nyante aja. Yang penting kerja halal,” katanya.

Sementara Natalia (34), perempuan single parent ini memutuskan untuk meninggalkan toko kelontong dan usaha laundry miliknya.

Sebab, pendapatan dari dua usaha tersebut hanya Rp 50.000 sehari. Ia bergabung menjadi driver Go-Jek sebulan yang lalu. Pendapatan lebih dari Rp 100.000 per hari dikantonginya.

“Yang terpenting saya punya banyak waktu luang untuk ngasuh anak saya, karena masih kecil baru tiga tahun,” ujar ibu muda ini

Tata, begitu dia biasa disapa,  menambahkan driver Go-jek perempuan di Surakarta cukup banyak. Setidaknya ada 73 driver yang tergabung dalam komunitas Srikandi Go-Jek.

Berbeda dengan Meme dan Tata, dua mahasiswi UNS  Sugiarti (21) dan Listi Indah Ayu Ssholihah (21) merintis Ukhti-Jek, jasa ojek khusus Muslimah. Dua gadis bercadar ini melihat peluang pada usaha di bidang jasa ini.

Usaha ini telah dilakoni selama tiga bulan dengan aplikasi Whatssapp, dengan jumlah driver baru tujuh orang yang seluruhnya berstatus mahasiswa.

“Cara pemesanan masih pake Whatsapp, kami sedang buat aplikasinya. Dulu ditawari aplikasi senilai Rp 290 juta, tapi kami putuskan buat sendiri,” ujar Listi.

Dia menambahkan kebutuhan jasa Muslimah cukup tinggi. Hal itu dilihat dari pendapatan para driver, yang rata-rata Rp 100.000 per hari. Padahal baru melayani untuk wilayah Solo.

Listi  menambahkan, kecepatan layanan masih menjadi tantangan bagi Ukhti-Jek. Waktu tunggu konsumen sekitar 10 menit, pasalnya seluruh driver masih berstatus mahasiswa.

Tak jarang ia kewalahan melayani order. Menurutnya, paling tidak butuh 100 driver untuk melayani kebutuhan ojek Muslimah di Kota Solo.

Sugiarti menambahkan,  selain motif ekonomi, Ukhti Jek juga memiliki nilai dakwah. Calon driver Ukhti-Jek selain harus memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) juga harus berhijab syari.

Selain itu, aplikasi yang akan diluncurkan juga mengakomodasi kebutuhan onlineshop khusus Muslimah, info kajian dan konsultasi syariah.

“Ukhti jek ini hanya salah satu item saja. Harapannya memang buka semata-mata usaha tapi ada nilai dakwahnya,”pungkasnya.