JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Pendidikan Impulse Gelar Diskusi Riset Penelitian

Impulse Gelar Diskusi Riset Penelitian

20
BAGIKAN
Diskusi Etnovideografi — Para peserta dalam diskusi sedang menonton video hasil darimetode Etnovideografi dalam diskusi Etnovideografi sebagai alat analisis di kedai Anomie Coffee, Jumat (26-5).. Foto : Dok Akademia UMS

Diskusi merupakan sebuah kegiatan yang penting untuk dilakukan bagi kalangan akademisi baik dosen maupun mahasiswa.

Kegiatan semacam ini memberikan banyak manfaat seperti bertambahnya wawasan mengenai suatu permasalahan, bertambahnya sudut pandang dalam mengatasi permasalahan, bahkan juga dapat menambah relasi antar individu.

Salah satu diskusi yang dapat memberikan manfaat seperti itu yaitu diskusi mengenai Etnovideografi sebagai alat analisis. Diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Impulse berlangsung pada Jumat (26/5/2017) di Kedai Anomie Coffee, Jl. Kaliurang KM 5 Yogyakarta.

Etnovideografi merupakan sebuah gabungan antara dua kata yaitu etnografi dan videografi. Gunawan Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) selaku pemateri dalam diskusi tersebut mengungkapkan etnografi dianggap sebagai penggambaran pada suatu kebudayaan tertentu yang berkembang pada tradisi penelitian kualitatif yang biasanya dilakukan antropologi.

“Secara gampangnya etnografi itu merupakan sebuah gambaran budaya tertentu yang berkembang pada tradisi penelitian kualitatif. Biasanya penelitian ini dilakukan di dalam penelitian anthropologi. Sedangkan videografi nya sendiri yaitu merekam menggunakan bantuan kamera,” jelasnya.

Sebenarnya etnografi ini muncul dalam bentuk sebuah tulisan, namun karena pengaruh berkembangnya teknologi kemudian etnografi menyesuaikan diri hingga berkembang menjadi etnovideografi.

Hal tersebut diawali dengan teknik videografi yang pada mulanya dicoba untuk mempresentasikan sebuah budaya yang hanya melalui sebuah tulisan etnografi menjadi bentuk visual.

Dia juga menambahkan kini etnovideografi telah menjadi sebuah kajian  antropologi dari sisi visual atau etnografi visual yang memanfaatkan indera penglihatan.

“Kira-kira fokus dalam sebuah etnovideografi ini seorang peneliti mencoba melakukan kajian-kajian antropologi atau etnografi dari segi visual,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, dia menjelaskan bentuk riset visual dapat dipecah menjadi dua model, yaitu model riset untuk kamera dan model kamera untuk riset. Kedua model ini merupakan sebuah model riset yang berbeda dan tergantung bagaimana peneliti ingin menggunakannya.

“Model riset untuk kamera yaitu dengan menempatkan hasil rekaman kamera baik berupa foto maupun video sebagai representasi komunitas atau persolan yang diteliti. Hasil rekaman kamera. Sedangkan model kamera untuk riset yaitu hasil rekaman kamera digunakan sebagai data yang kemudian diekplorasi dan dianalisa untuk mendapatkan konteks dan pemahaman tertentu terhadap komunitas atau persoalan yang diteliti,” paparnya.

Hasil dari metode tersebut juga memiliki hasil yang subjektif. Artinya hasil yang diperoleh oleh peneliti yang satu dengan peneliti yang lain cenderung berbeda meski yang diteliti sama. Hal ini dikarenakan setiap peneliti akan memiliki pengalaman serta penafsiran yang berbeda meski hal yang diteliti sama.

Sumpana Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) selaku peserta dalam diskusi tersebut mengungkapkan tema yang diangkat sangat menarik karena dapat membuat wawasan dalam melihat Indonesia menjadi lebih luas.

Menurutnya sebuah penelitian etnografi dapat memberikan beragam gambaran mengenai kultur atau mitos suatu daerah.#Tim Akademia UMS