JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Izin Perlintasan Sebidang Ditolak Pusat, Pemkot Maksimalkan Palang Pasar Nongko

Izin Perlintasan Sebidang Ditolak Pusat, Pemkot Maksimalkan Palang Pasar Nongko

44
BAGIKAN
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
MENGATASI MACET – Kereta Api Prambanan Ekspres melintas di perlintasan kereta api Badran, Surakarta, Minggu (7/5). Saat ini, Dinas Perhubungan Kota Surakarta masih menunggu keputusan Kementerian Perhubungan terkait akan dibangunnya dua jalur perlintasan sebidang untuk mengatasi kemacetan saat pengerjaan proyek flyover berlangsung.

SOLO – Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta akan memaksimalkan perlintasan sebidang Pasar Nongko dan Jalan RM Said sebagai jalur utama untuk pengalihan kendaraan saat proyek flyover Manahan dibangun.

Pasalnya rencana pembangunan perlintasan sebidang darurat di sebelah barat dan timur batal terlaksana akibat tidak mendapat izin dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Pembangunan perlintasan darurat saat flyover Manahan dibangun tidak mendapatkan izin. Secara lisan sudah disampaikan dan untuk jawaban resmi dari Kemenhub belum kami terima,” terang Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta, Hari Prihatno , Selasa (23/5/2017).

Pihaknya pun akan memaksimalkan Jalan RM Said dan perlintasan sebidang Pasar Nongko, sebagai jalur utama pengalihan kendaraan selama flyover Manahan dibangun.

Nantinya rekayasa lalu lintas akan disusun termasuk pengaturan arus kendaraan dan rambu-rambu penunjuk arah. Ini agar pengendara tidak bingung selama pembangunan flyover berlangsung.

“Secepatnya akan kita kaji lalu lintas di sana agar tidak menumpuk. Apalagi di sana itu jalannya cukup sempit dan akan berpengaruh, itu nanti akan dilebarkan,” paparnya.

Alasan penolakan pembangunan perlintasan darurat ini karena dianggap melanggar regulasi yang ada. Jika merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 36/2011 tentang Perpotongan dan Atau/Persinggungan Antara Jalur Kereta Api Dengan Bangunan Lain, jarak minimal antara dua perlintasan sebidang yang berdekatan dalam satu jalur kereta ditetapkan 800 meter. Sementara perlintasan sebidang Manahan dengan Pasar Nongko jaraknya tidak sampai 800 meter.

”Selain itu hasil analisa lanjutan pihak terkait, jika keberadaan perlintasan sebidang darurat itu malah akan menambah keruwetan lalu lintas dan itu akan menambah masalah baru. Adanya penolakan ini kita pun harus mencari alternatif lain untuk memecah kemacetan saat flyover dibangun,” ungkapnya.

Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Surakarta, Budi Yulistianto menyatakan nantinya rekayasa lalu lintas di sekitar perlintasan Pasar Nongko akan dibuat sedetil mungkin. Sehingga bisa menjadi jalur untuk pengalihan arus saat flyover dibangun.

“Disana itu kalau kondisi normal saja sudah macet. Ditambah Jalan RM Said di sekitar perlintasan lebih sempit jika dibanding titik lainnya. Itu nanti kita lebarkan dan jadi tanggung jawab pemkot,” imbuhnya.

Sedianya perlintasan darurat akan dibangun saat flyover Manahan dibangun dan Jalan Dr Moewardi akan ditutup. Rencananya perlintasan tersebut dibangun di Jalan Hasanudin, tepatnya di kawasan Brengosan dan sebelah timur Hotel Agas.

Kedua perlintasan itu akan menghubungkan Jalan Hasanudin dengan Jalan Samratulangi dan Jalan MT Haryono (melalui Kampung Purworejo).

#Ari Welianto