Jelang Revitalisasi Museum Keraton Surakarta, Hal Ini yang Harusnya Ditonjolkan

Jelang Revitalisasi Museum Keraton Surakarta, Hal Ini yang Harusnya Ditonjolkan

42
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
MENJELANG REVITALISASI – Pengunjung melintas di dalam Museum Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (28/5). Pemerintah akan melakukan revitalisasi banguna Keraton Kasunanan Surakarta.

Lumut dan tumbuhan liar tampak mengiasi dinding luar Museum Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Atap museum juga tampak berkarat, warna cat tembok telah memudar dan bahkan terkelupas. Begitulah wajah museum, yang sepertinya tampak muram.

Objek wisata  yang menjadi ikon Kota Bengawan ini dinilai masih menjadi magnet bagi wisatawan. Museum Keraton Surakarta menyuguhkan kekayaan sejarah. Harga tiket yang ditawarkan untuk pengunjung juga relatif murah.

Wisatawan domestik hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10.000, dan jika rombongan minimal 40 orang hanya dikenakan tiket masuk per orang Rp 8.000.

Sedangkan untuk turis asing dikenakan tiket masuk Rp 15.000. Selain tiket masuk, pihak museum juga mengenakan biaya izin foto sebesar Rp 3.500 per orang.

“Dibandingkan dengan tiket masuknya, pengetahuan yang didapatkan nilainya lebih besar,” ujar Ida (55), penjaga loket Museum Keraton Surakarta, Minggu (28/5/2017) kemarin.

Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
MENJELANG REVITALISASI – Pengunjung melintas di dalam Museum Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (28/5). Pemerintah akan melakukan revitalisasi banguna Keraton Kasunanan Surakarta.

Namun demikian, angka kunjungan wisatawan dalam beberapa waktu terakhir cenderung turun. Kini rata-rata kunjungan per hari hanya berkisar 100 orang pada hari biasa, dan 200 orang pada hari libur. Namun masuki bulan Ramadan angka kunjungan merosot tajam, tinggal rata-rata menyisakan 50 pengunjung saja setiap hari.

“Pengunjung museum masih didominasi wisatawan domestik. Kalau wisatawan asing masih sedikit, hari ini (kemarin) cuma ada dua orang,” imbuh Ida.

Disinggung soal revitalisasi, Ida mengaku, tak banyak mengerti persoalan tersebut. Ia hanya mendengar kabar jika akan dibentuk pengelola museum yang baru.

Ia berharap pergantian pengurus dan revitalisasi membawa dampak baik bagi museum, sehingga mampu menarik kunjungan wisatawan.

“Saya di sini sudah lebih dari 25 tahun, dan sempat ngalamin berganti-ganti pengelola. Mudah-mudahan revitalisasi membuat museum lebih baik,” tandasnya.

Baca Juga :  The Park Mall Hadirkan Doraemon dan Nobita

Di mata wisatawan, Museum Keraton Surakarta mendapat penilaian beragam. Salah satu pengunjung museum, Riri (23), mahasiswa asal Yogyakarta, mengatakan Museum Keraton Surakarta menarik dikunjungi lantaran nilai sejarahnya.

Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
MENJELANG REVITALISASI – Pengunjung mengamati koleksi di Museum Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (28/5). Pemerintah akan melakukan revitalisasi banguna Keraton Kasunanan Surakarta.

Pada kunjungan perdananya itu, ia mengaku cukup puas. Narasi sejarah yang diberikan pemandu wisata dinilainya cukup membantu menelaah jejak-jejak sejarah yang tersirat dari benda-benda yang dipamerkan.

“Tapi ada sebagian benda-benda yang narasinya kurang. Kalau nggak ada pemandu, pengunjung pasti nggak tahu. Kalau bisa malah ada ruang audio visual yang sedikit menggambarkan tentang sejarah keraton, biar sedikit kekinianlah,” ujarnya.

Riri menambahkan, harga tiket masuk relatif murah. Dengan uang Rp 10.000 ia dapat menikmati jejak-jejak sejarah keraton dari benda-benda peninggalan yang dipajang. “Kalau bisa, lebih banyak lagi benda yang dipamerkan. Jadi kunjungannya nggak singkat,” katanya.

Di sisi lain, ada pula sejumlah wisatawan yang kurang mendapat kepuasan usai mengunjungi Museum Keraton Surakarta. Seperti yang dirasakan oleh Ningrum (26), pengunjung asal Sukoharjo.

Ia menilai, Museum Keraton Surakarta jauh tertinggal dibandingkan dengan museum lain yang telah menyuguhkan teknologi audio visual, sehingga lebih menarik.

“Ya gitulah kalau ke museum, sekadar muter, lihat-lihat, diterangkan ini itu dan pulang. Mungkin bisa lebih menarik kalau kita bisa berinteraksi dengan keluarga keraton, makan kuliner ala keraton, dan lain-lain. Jadi budaya itu benar-benar bisa kita lihat dan rasakan,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu kerabat Keraton Surakarta KP Eddy Wirabumi mengatakan, keraton dan museum yang ada di dalamnya merupakan jejak perjalanan sejarah peradaban Jawa.

Berbeda dengan museum pada umumnya, jejak-jejak peradaban itu masih hidup dan lestari. Oleh karena itu, revitalisasi museum hendaknya dapat lebih mengungkap nilai-nilai luhur keraton yang masih terjaga hingga kini.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan Buka Posko Kesehatan di Tirtonadi
Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
MENJELANG REVITALISASI – Pengunjung mengamati koleksi di Museum Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (28/5). Pemerintah akan melakukan revitalisasi banguna Keraton Kasunanan Surakarta.

“Secara fisik tentu bisa dilakukan perbaikan, tapi isi atau nilai-nilai yang terkandung dalam keraton dan museum harus tersampaikan dengan baik. Jangan sampai revitalisasi justru membuat museum sekadar menyuguhkan berbagai benda dan menerangkan fisik miniatur,” katanya.

Lanjut Eddy, Keraton Surakarta merupakan living heritage (warisan hidup). Idealnya berbagai aktivitas yang menunjukkan jejak-jejak sejarah itu disuguhkan kepada para wisatawan.

Namun pada kenyataannya keraton sangat minim kegiatan, hanya pada hari-hari tertentu saja wisatawan dapat menikmati upacara atau kegiatan-kegiatan adat dan budaya.

“Kalau ke situ wisatawan paling cuma lihat abdi dalem yang nyapu. Karena living heritage akan lebih baik jika berbagai kegiatan bisa dinikmati oleh wisatawan,” imbuhnya.

Menurut Eddy, juga perlu adanya lompatan pemikiran untuk benar-benar menjadikan keraton sebagai living heritage. Tak hanya itu, pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan wisata keraton juga harus dilakukan.

Foto-foto : Joglosemar | Kurniawan Arie Wibowo
MENJELANG REVITALISASI – Warga melintas di depan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (28/5). Sedangkan pengunjung mengamati koleksi Museum Keraton Kasunanan.

Misalnya dengan konsep E-Museum, salah satunya menyuguhkan layar toucsreen yang berisi informasi tentang narasi benda-benda dalam museum maupun sejarah Keraton Surakarta. Sebab saat ini perkembangan masyarakat sudah sedemikian jauh.

“Saya pernah mencoba memperbaiki sistem tiketing dengan penerapan E-Tiket pada era PB XII. Tapi sumber daya manusianya tidak siap, akhirnya alat tersebut mangkrak,” ungkap Eddy.

Ia menambahkan, menurut aturan adat, keraton berikut museum merupakan aset milik dinasti keraton. Raja hanya memiliki kewajiban untuk meneruskan kegiatan yang dilaksanakan raja sebelumnya.

“Saya berharap, siapa pun yang memiliki kewenangan pengelolaan saat ini dapat bertindak arif dan bijak, jangan sampai disalahkan oleh generasi setelahnya,” pungkas Eddy.

Arief Setiyanto

BAGIKAN